Kediri (tahukediri.id) – Terkenalnya Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri di kanca Nasional bahkan manca negara tak luput dari sosok si pembuat patung. Adalah Suwari, seorang seniman berusia 69 yang berhasil mengerjakan patung ikonik tersebut selama 18 hari.
Suwari mengungkapkan, bahwa dirinya mengerjakan patung permintaan Kepala Desa tersebut sendiri tanpa bantuan orang lain satu pun.
“Saya diutus oleh Bapak Kepala Desa untuk membuat patung ini. Jadi, saya kerjai mulai tanggal 2 Desember, selesai 18 hari membuat patung ini,” katanya, pada Selasa (6/1/2025).
Lebih lanjut Suwari menjelaskan, untuk membuat patung Macan Putih dengan panjang 1,5 m x tinggi 1 meter, menghabiskan total anggaran sebesar Rp3,5 juta, dengan rincian Rp2 juta sebagai ongkos pengerjaan dan Rp1,5 juta untuk pembelian material. Menurut Suwari, biaya tersebut merupakan dana pribadi dari Kepala Desa.
“Rencananya Rp3.500.000, yang 2 juta untuk buat patung, sing Rp1.500.000 untuk material. Uang pribadi dari Pak Lurah sendiri,” jelasnya.
Dalam prosesnya, Suwari menegaskan tidak berani mengubah konsep yang telah ditentukan. Ia diminta membuat patung macan putih sesuai gambar yang diberikan.
“Permintaan Pak Kepala Desa harus loreng hitam putih. Soalnya danyang atau cikal bakal Desa Balongjeruk itu macan putih,” tegasnya.
Meski demikian, hasil akhir patung justru dinilai unik dan berbeda dari gambaran macan pada umumnya. Bahkan, Suwari sendiri mengaku heran dengan respons publik yang begitu besar.
“Saya ya heran kok. Lha wong saya buat patung macan di mana-mana seperti macan kok ini seperti Kuda Nil. Kok malah rame loh. awake dhewe gumun,” ujarnya.
Sebelumnya, Suwari juga pernah membuat patung wewayangan seperti Petruk, Bagong, Semar yang berada di Desa Sidodadi. Dan setelah karya Patung Macan Putih nya diakui oleh masyarakat luas, ia diminta membuat patung naga, namun Mbah Suwari memilih menundanya, demi menyambut tamu atau pengunjung yang datang.
“Ya nanti dulu, lah (membuat patung naga) . Nanti pengunjung ini sudah sepi ya saya kerjain, saya enggak boleh ke sana-sana, harus di sini. Karena apa? Nanti ada tamu dari jauh-jauh, kan temuin mesti saya,” terangnya.
Terlihat, tak sedikit pengunjung yang datang untuk berfoto bersama sang pembuat patung. Salah satunya Sriati, pengunjung asal Meduran, Ringinpitu, Kecamatan Plemahan yanng datang bersama komunitas “Grup Tandur” usai pulang kerja karena ingin melihat macan Mbah Suwari.
“Alasannya ke sini mau melihat macannya Pak Mbah Suwari,” katanya.
Menurutnya patung Macan Putih buatan Mbah Suwari ini bagus dan unik. Ia pun merasa senang akhirnya bisa sampai dan berfoto langsung dengan sang pembuat patung.
“Seneng bisa kesini. Patungya seperti di foto, macan enggak kayak macan, tapi bagus, lucu,” ungkapnya.
Patung Macan Putih Balongjeruk pun kini bukan sekadar penanda desa, melainkan telah menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan cerita tentang dedikasi, kepercayaan budaya, dan karya seni rakyat. [nik/ang]

