Kediri (tahukediri.id) – Di tengah rutinitas kerja work from cafe (WFC), sejumlah pekerja profesional dan pekerja lepas di Kota Kediri justru menemukan tempat kerja baru selama bulan suci Ramadan: masjid dan musholla di kota ini.
Para pekerja membawa laptop, tablet, atau buku catatan mereka dan memilih untuk menyelesaikan tugas harian di lingkungan masjid seperti Masjid Agung Kota Kediri, Masjid Al-Khalid, serta Masjid Al Ikhlash Muhammadiyah Kota Kediri. Fenomena ini terlihat sejak awal Ramadan, di mana area serambi, taman, atau ruang terbuka masjid sering dipenuhi oleh sejumlah pekerja dengan perangkat kerja mereka pada siang hari.
Mereka mengaku suasana masjid yang lebih tenang menjadi alasan utama. Selain itu, jeda antara waktu shalat memberikan kesempatan untuk beristirahat secara spiritual sekaligus menyelesaikan pekerjaan secara produktif. Suasana berbeda ini menjadi pilihan bagi pekerja yang sebelumnya lebih sering berada di co-working space atau kafe.
“Kalau di kafe kan ramai, kadang suara bising dan orang lalu-lalang. Di masjid malah lebih hening, jadi fokus kerja sambil istirahat buat salat dzuhur,” kata salah satu pekerja lepas di Masjid Agung Kota Kediri.
Tak hanya itu, tempat seperti Masjid Al-Khalid juga dipilih karena desainnya yang representatif dan ruang yang terbuka, memudahkan pekerja untuk mengatur jadwal sesuai kebutuhan kerja mereka. Masjid ini bahkan pernah meraih penghargaan Masjid Award sebagai salah satu masjid berperan aktif bagi masyarakat Kota Kediri.
Pengurus sejumlah masjid menyatakan fenomena ini disambut positif selama tidak mengganggu kegiatan ibadah. Mereka menilai kehadiran pekerja di masjid justru membuat lingkungan masjid tetap “hidup” dan produktif di luar waktu salat.
“Kami tetap mengingatkan agar kegiatan kerja dilakukan dengan menjaga adab, tidak mengganggu jamaah lain, dan ditempatkan di area yang memang diperbolehkan,” ujar salah satu takmir masjid setempat.
Fenomena ini menjadi salah satu dinamika unik Ramadan di tengah perubahan pola kerja modern. Di Kota Kediri, masjid dan musholla bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga ruang produktif yang dipilih pekerja untuk menyelaraskan kebutuhan spiritual dan profesional. [Tan/ang]

