Kediri (tahukediri.id) – Berhentinya siaran Radio Wijang Songko (RWS) FM menjadi kabar yang mengguncang banyak hati di Kediri dan sekitarnya. Radio yang telah mengudara selama 58 tahun itu bukan sekadar media hiburan, melainkan ruang tumbuh bagi banyak insan kreatif, termasuk Gita Nurani Dewi atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Cahya, sosok di balik karakter ikonik Mbok Yah.
Bagi Dewi, RWS adalah tempat belajar yang membentuk perjalanan hidupnya. Ia tidak hanya mengenal dunia siaran, tetapi juga memahami berbagai aspek di balik layar industri radio.
“Aku banyak tambahan ilmu. Yang pastinya mulai dari ilmu off air, EO, marketing, dll, juga menjalankan kegiatan-kegiatan off air,kayak nata event-event terus kemudian memanage jadwal,” ujarnya pada reporter tahukediri.id, Rabu (1/4/2026).
Pengalaman tersebut membentuknya menjadi sosok penyiar yang tidak hanya piawai berbicara di udara, tetapi juga memahami ritme kerja media secara menyeluruh. RWS, menurutnya, menuntut setiap kru untuk terus berkembang mengikuti zaman.
“Apapun beritanya, mulai dari hiburan, musik, kemudian politik, informasi kesehatan, pokoknya semuanya. Bahkan mendunia, kalau dia SK-RWS dulu begitu, kita harus bisa update itu dengan cepat,” jelasnya.
Di ruang siaran itulah, Dewi belajar menjadi “all rounder”. Ia tidak hanya menyapa pendengar dengan musik campursari atau dangdut, tetapi juga membawakan berbagai genre, dari pop hingga K-Pop, mengikuti selera generasi yang terus berubah.
“Jadi semuanya…, ya news, ya keagamaan, ya musik. Musik itu kalau di sana dulu enggak cuman dangdut campursari tok. Jadi kita harus, jadi penyiar yang bisa membawakan semua acara jadi harus bisa all round. Ya, bisa diposisikan jadi penyiar anak muda, dewasa dengan berbagai karakter. Dulu juga pernah siaran K-pop, tapi lebih di SK-nya sih kalau untuk anak muda,” imbuhnya.
Karakter Mbok Yah yang ia bawakan menjadi salah satu ikon yang melekat di ingatan pendengar. Suara nenek-nenek yang khas itu hadir dalam program campursari, menghidupkan suasana siaran dengan nuansa lokal yang hangat.
“Ada suara Mbok Yah, suara nenek-nenek yang dulu sempat jadi ikonnya RWS juga. Kalau acara campursari SK RWS pasti kenal dengan Mbok Yah,” katanya.

Tak hanya itu, Dewi juga memainkan karakter lain seperti suara anak kecil bernama Menuk, menunjukkan fleksibilitasnya sebagai penyiar yang mampu menghadirkan berbagai emosi dalam satu frekuensi.
Perjalanan kariernya di RWS dimulai sekitar tahun 2009 melalui Suara Kediri (SK), sebelum akhirnya bergeser ke RWS untuk mengisi program campursari dan dangdut di jam-jam strategis.
“Waktu itu RWS sempat kekurangan penyiara cambusari sama Dangdut. Jadi aku digeser, membantu di RWS. Lumayan sih aku di SK RWS hampir, hampir 7 tahun kalau enggak salah ya. Sampai tahun 2016 akhir,” kenangnya.
Kini, ketika kabar berhentinya siaran RWS terdengar, Dewi mengaku tak kuasa menahan keterkejutannya. Radio yang telah hadir jauh sebelum ia lahir itu menjadi bagian penting dalam hidupnya hingga saat ini.
“Dua hari yang lalu sih ya, kaget, syok dengarnya. Karena radio ini kan bisa dibilang radio pertama dan radio tertua ya, Mbak. Dan sudah menghibur masyarakat Kediri dan sekitarnya itu kan sudah cukup lama banget mulai saya belum lahir sampai sekarang sampai anak saya enam,” katanya.
Tak hanya Dewi, banyak pendengar setia yang turut mempertanyakan kabar tersebut. RWS bukan sekadar media, tetapi teman setia yang menemani keseharian masyarakat selama hampir enam dekade.
Di tengah rasa kehilangan itu, Dewi masih menyimpan harapan. Ia percaya, nama besar RWS tidak akan hilang begitu saja dan suatu saat bisa kembali dengan wajah baru yang lebih segar.
“Semoga ke depannya akan ada manajemen baru yang lebih baik dan fresh lagi dengan formula baru, bisa terus mengikuti tren perubahan dan perkembangan zaman. Sehingga nama RWS ini nanti benar-benar tidak hanya akan menjadi sebuah museum saja, tapi benar-benar tetap bisa membudaya, menghibur masyarakat dengan ciri khasnya RWS sendiri,” tandasnya. [nik/ang]

