Kediri (tahukediri.id) – Di balik tenangnya suasana Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, berdiri sebuah rumah bersejarah yang menyimpan kisah penting perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang lahir tepat hari ini, Sabtu (6/6/2026).
Rumah yang dikenal sebagai Situs Ndalem Pojok ini dipercaya menjadi tempat Bung Karno kecil menjalani pengobatan hingga akhirnya berganti nama dari Kusno Sosrodihardjo menjadi Soekarno.
Pemandu Situs Ndalem Pojok, Jeni Puspita Perdana, mengatakan, Bung Karno, sapaan akrab Presiden Soekarno dibawa ke Ndalem Pojok sejak usianya 2 tahun yakni sekitar tahun 1902 sampai 1907.
“Nah jadi ini antara tahun 1902 sampai 1907 Kusno tinggal bersama ayah bundanya hingga nama Kusno diganti menjadi Soekarno. Jadi perkiraan dari tahun itu,” katanya pada reporter tahukediri.id.
Rumah sederhana yang menjadi bangunan utama Situs Ndalem Pojok tersebut merupakan rumah ayah angkat Bung Karno bernama Raden Mas Soemosewojo atau dikenal dengan Denmas Mendung, seorang tabib pada masa itu.
Rumah tempat Bung Karno menjalani masa pengobatan semasa kecil itu didirikan sekitar tahun 1850-an oleh Radem Mas Panji Soemohatmodjo, seorang tokoh yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan Keraton Surakarta. Ia merupakan keturunan Pangeran Sambernyawa dan pernah menjadi Patih Dalem Pakubuwono IX yang juga ayah dari ayah angkat Bung Karno.
Hubungan keluarga Ndalem Pojok dengan Bung Karno ternyata bukan sekadar hubungan ayah angkat dan anak angkat. Keluarga keduanya masih memiliki ikatan kekerabatan sehingga hubungan tersebut terjalin sangat dekat sejak lama.
Salah satu ruangan di Ndalem Pojok menjadi tempat yang paling banyak menarik perhatian pengunjung adalah kamar masa kecil Bung Karno. Kamar tersebut dipercaya menjadi saksi bisu pergantian nama Kusno Sosrodihardjo menjadi Soekarno.
Kisahnya bermula ketika Kusno kecil sering mengalami sakit-sakitan. Bahkan dalam cerita keluarga disebutkan Bung Karno kecil pernah mengalami kondisi yang sangat kritis. Karena itu, kedua orang tuanya membawa Kusno ke Ndalem Pojok untuk mendapatkan pengobatan dari sang ayah angkat Raden Mas Sumosewoyo.
“Jadi dulu tuh Bung Karno pernah sakit-sakitan, bahkan juga pernah mati suri, akhirnya diobati. Saking sayangnya kedua orang tua Bung Karno dengan Bung Karno, Bung Karno dibawa ke sini, diobati, terus dilakukan ruwatan diganti nama dari Kusno menjadi Soekarno. Itu yang ngasih nama adalah Eyang Soemosewojo,” jelasnya.
Jeni menyebutkan, di antara istrinya, hanya istri pertama Presiden Soekarno, Inggit Garnasih yang, pernah datang ke Ndalem Pojok. Bahkan ia pernah meminjam kitab Tholiba yang berisi ramuan pengobatan tradisional milik keluarga.
Sementara anaknya yang pernah berkunjung adalah Guruh Soekarnoputra, cucu Bung Karno Puti Guntur Soekarno, dan Romy Soekarno. Sedangkam Megawati Soemarnoputri disebut pernah berkunjung semasa kecilnya.
Kini, Situs Ndalem Pojok tak hanya menjadi tujuan wisata sejarah bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga menarik perhatian wisatawan luar negeri.
Jeni menyebut pengunjung dari Jepang, China, Swiss, Belgia, Bulgaria, Turki hingga Singapura pernah datang untuk melihat langsung tempat yang memiliki keterkaitan dengan masa kecil Bung Karno.
“Luar negeri, ada. Dari Cina ada, Jepang juga ada. Itu tahun ini? Ada yang tahun 2 tahun yang lalu, tahun kemarin, tahun ini juga ada. Swiss juga ada, Belgia juga ada, terus Bulgaria juga ada, Turki, Singapur juga pernah ada,” katanya.
Menurutnya, sebagian wisatawan asing sengaja menyempatkan datang ke Kediri setelah berkunjung ke Blitar untuk menelusuri jejak perjalanan hidup Sang Proklamator.
Bukan hanya sebagai destinasi sejarah, Situs Ndalem Pojok kini juga menjadi tempat berbagai kegiatan budaya, tasyakuran kebangsaan, hingga pembinaan karakter generasi muda.
Setiap peringatan hari besar nasional, keluarga dan pengelola rutin menggelar kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas, tokoh masyarakat, dan lintas agama. Kegiatan terbesar biasanya berlangsung pada bulan Agustus bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sementara pada Bulan Bung Karno setiap Juni, berbagai kegiatan refleksi sejarah hingga tradisi jamasan pusaka juga digelar di kawasan situs.
Salah satu keluarga Situs Ndalem Pojok, Raden Ayu Suratmi atau yang akrab disapa Yangti, berharap keberadaan situs ini dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah bangsa.
“Tempat tinggalku di dibuka untuk rumah guru, untuk Indonesia Raya. Ya, mudah-mudahan tempat ini nanti bermanfaat untuk penerus bangsa karena di sini diadakan pembinaan karakter, kembali ke jati diri bangsa,” ujarnya.
Bagi wanita usia 80 tahun itu, Situs Ndalem Pojok bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang pembelajaran untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dibangun dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan cinta tanah air yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Kita itu bangsa yang lain dari bangsa lain. Kita itu bangsa besar, berketuhanan dan berkemanusiaan, gandeng. Ketuhanan tok, gak perikemanusiaan, gak, gak betul. Nek kemanusiaan tok, gak bertuhan, ndak betul. Jadi harus berketuhanan. Hablum minallah, hablum minannas,” tandasnya. [nik/ang]

