Kediri (tahukediri.id) – Kebakaran hebat melanda lahan tebu di Dusun Minggiran, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Minggu (7/6/2026). Insiden tersebut diduga dipicu oleh pembakaran daduk atau sisa tanaman tebu yang tidak terkendali akibat hembusan angin kencang.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kebakaran menyebabkan kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp100 juta akibat luasnya area lahan yang terdampak.
Peristiwa kebakaran pertama kali dilaporkan oleh warga bernama Supriono pada pukul 11.58 WIB. Setelah menerima laporan, Tim Pemadam Kebakaran Pos Ngadiluwih segera bergerak menuju lokasi pada pukul 12.02 WIB dan tiba sekitar pukul 12.30 WIB.
Petugas kemudian melakukan upaya pemadaman menggunakan satu unit armada pemadam berkapasitas 2.500 liter air. Berkat penanganan cepat dari tim pemadam kebakaran, kobaran api berhasil dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 13.20 WIB.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, menjelaskan bahwa kebakaran bermula saat dilakukan pembakaran daduk tebu yang biasa dilakukan petani untuk membersihkan sisa tanaman setelah panen.
Namun, kondisi cuaca yang disertai angin cukup kencang menyebabkan api dengan cepat menjalar ke area sekitar hingga sulit dikendalikan oleh warga.
“Pada saat membakar daduk tebu, karena hembusan angin yang kencang api tidak terkendali,” ujarnya.
Menurut Kaleb, proses pemadaman berjalan sesuai prosedur operasional yang berlaku sehingga api dapat dicegah meluas ke area yang lebih besar maupun permukiman warga di sekitar lokasi.
“Api berhasil dipadamkan sesuai dengan SOP,” katanya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, kebakaran lahan pertanian seperti ini berpotensi memberikan dampak ekonomi yang cukup besar. Selain merusak tanaman yang masih dapat dimanfaatkan, kebakaran juga dapat mengganggu produktivitas lahan dan menambah biaya yang harus dikeluarkan petani untuk proses pemulihan lahan.
Di wilayah penghasil tebu seperti Kecamatan Ngancar, kebakaran lahan juga dapat memengaruhi rantai pasok bahan baku industri gula apabila terjadi dalam skala yang lebih luas. Oleh karena itu, pengelolaan limbah pertanian perlu dilakukan dengan metode yang lebih aman untuk mengurangi risiko kebakaran.
Kaleb mengungkapkan bahwa dari hasil pendataan sementara, nilai kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai sekitar Rp100 juta. Sementara aset dan area yang berhasil diselamatkan petugas diperkirakan bernilai sekitar Rp20 juta.
“Pada saat membakar daduk tebu karena hembusan angin yang kencang api tidak terkendali,” ujar Kaleb.
Ia juga mengapresiasi respons cepat petugas pemadam kebakaran yang mampu mengendalikan situasi sebelum api meluas ke area lain yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar.
Selain melakukan penanganan di lapangan, pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas pembakaran limbah pertanian, terutama pada musim kemarau atau saat kondisi cuaca berangin.
Menurutnya, pembakaran terbuka tanpa pengawasan yang memadai dapat dengan mudah memicu kebakaran lahan yang sulit dikendalikan.
Peristiwa kebakaran lahan tebu di Kecamatan Ngancar menjadi pengingat pentingnya penerapan langkah-langkah keselamatan dalam pengelolaan limbah pertanian. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan risiko angin kencang, petani diharapkan lebih berhati-hati saat melakukan pembakaran daduk maupun aktivitas serupa. [nik/ang]

