Kediri (tahukediri.id) – Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri terus mengintensifkan upaya pencegahan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui program home visit yang melibatkan seluruh guru dan tenaga kependidikan.
Langkah ini dilakukan untuk menjangkau anak-anak yang belum mengenyam pendidikan sekaligus mengisi kuota penerimaan peserta didik baru di sejumlah SMP Negeri yang masih belum terpenuhi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih terdapat sekitar 800 hingga 1.000 kuota siswa yang belum terisi, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran.
“Kita masih kekurangan sekitar 1.000. Ya 800 sampai 1.000,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Beberapa sekolah yang masih memiliki kekurangan peserta didik di antaranya SMP Negeri Papar 2, SMP Negeri Kras 3, SMP Negeri Semen 2, SMP Negeri Kandangan 2, SMP Negeri Plosoklaten 3, SMP Negeri Plemahan 2, serta SMP Negeri Purwoasri 1 dan 2.
Menurut Muhsin, kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar calon peserta didik lebih memilih mendaftar di sekolah-sekolah yang dianggap favorit. Akibatnya, sejumlah sekolah mengalami kelebihan peminat, sementara sekolah lain masih kekurangan siswa.
“Kami menganalisis ini sebagian anak-anak ini berebut di sekolah-sekolah favorit ya sehingga menumpuk seperti SMP Ngasem 1 dan Ngasem 2 ini, kalau mereka mau berbagi sebenarnya ada yang ke Pagu, kemudian ke Gurah, Plosoklaten itu sebenarnya enggak akan terjadi.
Lebih jauh Muhsin menjelaskan, Dinas Pendidikan menyisir kembali anak-anak yang belum bersekolah, baik yang belum diterima di sekolah negeri maupun swasta melalui program home visit cegah ATS. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk mendistribusikan mereka ke sekolah yang masih memiliki daya tampung.
Selain itu, para siswa juga dilibatkan untuk membantu mendata teman-temannya yang belum bersekolah agar dapat segera dijangkau oleh pemerintah.
“Kita sedang melakukan penjangkauan kembali. Termasuk anak-anak ini nanti akan kita beri tugas ya. Siapa temanmu yang belum sekolah. Nanti akan kita data, kita akan jemput mereka,” terangnya.
Muhsin menambahkan, kegiatan home visit juga berhasil mengungkap berbagai kendala yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan, mulai dari persoalan ekonomi hingga biaya transportasi.
“Dari kegiatan home visit cegah ATS itu anak-anak yang memang belum diterima di sekolah ya, ada yang karena alasan ekonomi ya, nanti bayarnya ndak ada, terus bensinnya bagaimana. Padahal anak itu ranking satu di
di SD dan alhamdulillah kita temukan berkat kegiatan home visit cegah ATS dan sekarang masuk di SMP 1 Plemahan ya. Nah ini ini salah satu apa yang ditemukan oleh guru dan tenaga kependidikan saat melaksanakan kegiatan home visit cegah ATS,” jelasnya.
Pihaknya berharap pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah, guru, dan pemerintah mampu membuka akses pendidikan bagi seluruh anak di Kabupaten Kediri.
Ke depan, Dinas Pendidikan juga akan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih sekolah terdekat yang masih memiliki kuota, sehingga pemerataan peserta didik dapat terwujud.
“Ini menjadi catatan kami bagaimana tahun depan bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih sekolah yang terdekat ya dimanapun,” pungkasnya. [nik/ang]

