Kediri (tahukediri.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri melakukan pengasapan (fogging) disejumlah titik setelah ditemukannya satu warga yang terkonfirmasi positif Demam Berdarah Dengue (DBD) di kelurahan Manisrenggo, Senin (3/7/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Supriyanto, mengatakan, langkah tersebut dilakukan menyusul keluarnya Keterangan Diagnosis Rumah Sakit (KDRS) yang menyatakan satu pasien positif DBD.
“Ya tadi di Manisrengho ada kasus demam berdarah yang sudah positif keluar KDRS. Di rumah sakit itu ada satu orang, kemudian yang dua orang ini sudah kita lakukan RDT (Rapid Diagnostic Tes) untuk pemeriksaan demam berdarah di Pekasmas. Ini ternyata dari RDT-nya positif ya. Hingga harus kita di rujuk ya. Itu yang satu sudah positif hasilnya dari rumah sakit sudah keluar KDRS-nya, yang dua masih proses rujukan. KDRS-nya dari rumah sakit belum keluar namun sudah kita tindak lanjuti,” jelasnya.
Meski hasil diagnosis dua pasien tersebut masih menunggu kepastian dari rumah sakit, Dinkes Kota Kediri langsung melakukan penanganan di lapangan.
Petugas kesehatan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan Manisrenggo sekaligus melaksanakan fogging karena ketiga pasien berada dalam satu radius yang sama.
“Semua tadi sudah kita lakukan upaya untuk PSN di lingkungan itu dan juga langsung kita lakukan untuk pengasapan atau pengetapan vogging. Termasuk dua orang yang kita rujuk yang RDT-nya positif tadi. Sudah kebetulan dalam satu radius dengan yang satu positif sudah kita anggap sebagai juga DPD ya,” terangnya.
Hingga hari ini jumlah kasus DBD yang tercatat di Kota Kediri mencapai 19 kasus sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026. Sementara dua pasien yang saat ini masih menjalani pemeriksaan belum dimasukkan dalam laporan resmi karena masih menunggu hasil KDRS.
Berdasarkan data Dinkes Kota Kediri, mayoritas penderita DBD tahun ini masih berasal dari kelompok usia anak-anak.
Menurut Hendik, tren kasus DBD tahun ini mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia.
Meski begitu, untuk menekan penyebaran DBD, pihaknya tetap menghimbau masyarakat rutin menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta melakukan berbagai upaya pencegahan lainnya.
“Kita sudah melakukan sosialisasi lewat media masa ataupun lewat kader-kader. Dan kalau tahun ini Alhamdulillah kasusnya sangat sedikit sekali tahun ini. Tidak hanya di Kota Kudil tapi di daerah-daerah lain kasus rumah berdarah itu memang tahun ini turun sangat drastis,” pungkasnya. [nik/ang]

