Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Bantu Akses Perbankan Tanpa Libur, Toko Evi BRILink Werungotok Jadi Solusi Transaksi Warga Desa

    24 September 2026 - 21:57

    Dekatkan Akses Perbankan di Desa Jekek Baron, Agen BRILink Rizqi Lancar Jadi Solusi Transaksi dan Belanja Warga

    24 September 2026 - 21:41

    Hari Tani Nasional, Petani Kediri Masih Hadapi Masalah Pupuk, Hama dan Alih Fungsi Lahan

    24 September 2026 - 20:54
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tahu Hukum
    • Tentang
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Hari Tani Nasional, Petani Kediri Masih Hadapi Masalah Pupuk, Hama dan Alih Fungsi Lahan

    Hari Tani Nasional, Petani Kediri Masih Hadapi Masalah Pupuk, Hama dan Alih Fungsi Lahan

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 24 September 2026 - 20:54
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Petani Kediri hadapi masalah pupuk, hama dan alih lahan
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Di Hari Pertanian Nasional, persoalan pupuk, serangan hama, keterbatasan tenaga kerja hingga alih fungsi lahan masih menjadi tantangan bagi petani di Kabupaten Kediri.

    Baidowi (56), buruh tani jagung asal Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo, mengatakan kebutuhan pupuk petani saat ini relatif lebih tercukupi dibanding sebelumnya. Namun, ketersediaan pupuk bersubsidi belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tanaman.

    Menurutnya, petani jagung masih membutuhkan pupuk tambahan seperti NPK, KCL dan ZA. Sementara pupuk yang disediakan pemerintah antara lain Urea, Phonska dan pupuk organik.

    Banner Promo

    “Petani kan butuhkan ya seperti pupuk tambahan NPK, KCL, ZA itu. Kalau dari pemerintah kan cuma itu, urea sama Ponska, sama organik. ZA-nya keluar cuma untuk petani tebu. Petani jagung belum ada,” ujarnya saat ditemui dilahannya, Kamis (24/9/2026).

    Untuk mendapatkan pupuk tambahan tersebut, petani harus membeli di kios atau toko nonsubsidi. Kondisi ini membuat biaya produksi petani bertambah.

    Baidowi menyebut pupuk ZA bersubsidi lebih diperuntukkan bagi petani tebu. Sedangkan petani jagung masih harus mengandalkan pupuk nonsubsidi ketika membutuhkan tambahan.

    Persoalan ketersediaan pupuk juga dirasakan petani padi di Desa Sambiresik, Palidi, mengatakan dirinya pernah harus menunggu hingga sekitar satu bulan ketika pupuk bersubsidi belum tersedia.

    “Kalau dari pemerintah belum ada, ya menunggu. Kadang ada yang beli nonsubsidi, tapi harganya mahal,” ucapnya.

    Selain pupuk, Palidi juga menghadapi tantangan tersendiri yakni adanya serangan hama sundep. Hama yang menyerang tanaman padi tersebut mulai dirasakan sejak sekitar Juli.

    “Kendalanya itu kalau sini itu musim sundep. Sundep ulat yang ada di dalam padi,” katanya.

    Untuk mengatasi serangan hama teraebut, ia masih membeli obat secara mandiri.

    Sementara untuk pupuk, Palidi menggunakan pupuk bersubsidi jenis Phonska dan Urea dengan harga di kisaran Rp112 ribu per kemasan 50 kilogram.

    Meski demikian, ia menyebut harga pupuk tersebut justru mengalami penurunan dibanding sebelumnya.

    Namun, persoalan air yang biasanya menjadi tantangan saat musim kemarau juga relatif terbantu dengan adanya bantuan pompa submersible.

    Petani Kediri hadapi masalah pupuk, hama dan alih lahan

    Baidowi mengatakan, keberadaan pompa tersebut memberikan manfaat besar bagi petani. Sebelumnya, petani harus menggunakan mesin diesel masing-masing untuk mengairi lahan.

    “Di musim kemarau ini Alhamdulillah ya, pemerintah sudah mendirikan ada submersible. Ini sangat-sangat membantu untuk petani, biasanya petani itu pakai diesel sendiri-sendiri,” katanya.

    Sementara petani padi di wilayah tersebut juga menyebut kondisi pengairan di lahannya masih cukup aman.

    Palidi mengatakan, lahan di wilayahnya, mendapatkan pasokan air dari sungai yang relatif tidak mengalami kekeringan. Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah lain yang lokasinya lebih jauh dari sumber air.

    Di balik aktivitas pertanian yang masih berjalan, persoalan regenerasi tenaga kerja menjadi perhatian tersendiri.

    Menurut petani, jumlah buruh tani semakin berkurang. Anak-anak muda dinilai lebih banyak memilih bekerja di sektor konstruksi atau pekerjaan lainnya dibanding menjadi petani maupun buruh tani.

    “Pekerjanya makin berkurang. Anak muda sekarang tidak ada yang menjadi petani, buruh tani pun tidak ada. Banyak yang ke bangunan,” ujar Palidi.

    Pekerjaan buruh tani juga bersifat musiman sehingga pendapatannya dinilai belum memberikan kepastian. “Kurang ajek. Karena kan musim-musiman,” imbuhnya.

    Kondisi tersebut membuat keberlanjutan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pupuk dan air, tetapi juga keberadaan tenaga kerja yang akan mengelola lahan di masa mendatang.

    Para petani juga mulai mencemaskan semakin banyaknya pembangunan rumah dan bangunan permanen di sekitar lahan pertanian.

    Alih fungsi lahan dinilai berpotensi mengurangi ruang bagi pertanian, terlebih lahan pertanian di wilayah perkotaan dan kawasan padat seperti Kediri relatif terbatas.

    “Sebenarnya ya merasa ke situ ada (kekhawatiran). Sebagai orang kecil mau tidak mau mengikuti. Kalau lahan pertanian sering dialihfungsikan sama perumahan, akhirnya petani ke mana?” kata Baidowi.

    Menurutnya, persoalan lain juga muncul ketika lahan pertanian berada di sekitar permukiman. Sampah rumah tangga yang masuk ke area persawahan dapat mengganggu tanaman dan membuat petani harus melakukan pembersihan secara rutin.

    “Nek khawatir ya khawatir, Mas. Jelas mengganggu. Terutama yang sampingnya itu tanaman itu sulit bisa hidup baik,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menyampaikan luas tanam sejumlah komoditas pertanian di Kabupaten Kediri masih cukup besar.

    Untuk tanaman jagung, luas tanam tahun ini mencapai sekitar 57.000 hektare. Sedangkan tanaman padi sekitar 53.500 hektare, cabai sekitar 7.000 hektare, dan tebu sekitar 23.000 hektare.

    Khusus tebu, angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 22.000 hektare. Peningkatan dilakukan melalui program bongkar ratun dan perluasan area lahan.

    “Untuk tebu tahun ini insyaallah dari 22.000 tahun kemarin, kami tahun ini karena ada program bongkar ratun ini kami melakukan selain bongkar ratun ada perluasan area lahan di angka 23.000 hektar,” terang Sukadi.

    Menghadapi musim kemarau, pemerintah daerah juga melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan air bagi pertanian.

    Sukadi mengatakan bantuan alat pertanian, khususnya pompa air, terus dievaluasi dan diverifikasi untuk memastikan dapat digunakan secara optimal oleh petani.

    “Walaupun musim kemarau, alat-alat pertanian khususnya pompa air berjalan dengan baik. Bantuan setiap tahun kami evaluasi dan verifikasi ke lapangan terkait kelayakan operasionalnya,” jelas Sukadi.

    Untuk wilayah dataran tinggi yang memiliki potensi mengalami kesulitan air, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait pengeboran sumur.

    Selain itu, pemerintah memberikan dukungan bahan bakar bersubsidi bagi petani untuk operasional pompa.

    Petani dapat memperoleh solar maupun bensin bersubsidi melalui barcode yang diterbitkan Dinas Pertanian.

    Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah musim kemarau.

    “Itu yang kita lakukan itu untuk memberikan bantuan dalam rangka musim kemarau ini,” kata Sukadi.

    Namun bagi petani, keberlanjutan pertanian ke depan juga bergantung pada kemampuan mempertahankan lahan pertanian sekaligus menarik generasi muda agar tetap mau bekerja di sektor pertanian. [nik/ang]

    Berita Kediri Hari Tani Nasional Petani Kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleTertibkan Mafia Kios, Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Surati Pedagang yang Kuasai Lebih dari 5 Unit
    Next Article Dekatkan Akses Perbankan di Desa Jekek Baron, Agen BRILink Rizqi Lancar Jadi Solusi Transaksi dan Belanja Warga

    Info Lainnya

    Bantu Akses Perbankan Tanpa Libur, Toko Evi BRILink Werungotok Jadi Solusi Transaksi Warga Desa

    24 September 2026 - 21:57

    Dekatkan Akses Perbankan di Desa Jekek Baron, Agen BRILink Rizqi Lancar Jadi Solusi Transaksi dan Belanja Warga

    24 September 2026 - 21:41

    Tertibkan Mafia Kios, Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Surati Pedagang yang Kuasai Lebih dari 5 Unit

    24 September 2026 - 20:45

    15 Pedagang Minta Kepastian Sewa Kios, Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Ungkap Banyak Lapak Belum Terpakai

    24 September 2026 - 20:10

    Ratusan Pedagang Pasar Bandar dan Pahing Belum Urus Legalitas, Perumda Beri Waktu 7 Hari

    24 September 2026 - 08:47

    Satgas Pangan Kediri Sidak Beras di Pare, Harga Gabah Jadi Sorotan

    23 September 2026 - 22:17
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Bantu Akses Perbankan Tanpa Libur, Toko Evi BRILink Werungotok Jadi Solusi Transaksi Warga Desa

    24 September 2026 - 21:57

    Dekatkan Akses Perbankan di Desa Jekek Baron, Agen BRILink Rizqi Lancar Jadi Solusi Transaksi dan Belanja Warga

    24 September 2026 - 21:41

    Hari Tani Nasional, Petani Kediri Masih Hadapi Masalah Pupuk, Hama dan Alih Fungsi Lahan

    24 September 2026 - 20:54

    Tertibkan Mafia Kios, Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Surati Pedagang yang Kuasai Lebih dari 5 Unit

    24 September 2026 - 20:45

    15 Pedagang Minta Kepastian Sewa Kios, Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Ungkap Banyak Lapak Belum Terpakai

    24 September 2026 - 20:10
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.