Kediri (tahukediri.id) – Rencana pembangunan Kawasan Parkir Terpadu dan Kuliner di eks Pasifik, Jalan Stasiun, Kota Kediri, membawa kekhawatiran bagi para penghuni bangunan yang terdampak. Pasalnya, sedikitnya 16 bangunan di kawasan tersebut akan terkena proyek yang direncanakan mulai dikerjakan pada tahun anggaran 2027.
Di antara bangunan yang terdampak terdapat sejumlah bangunan bergaya kolonial yang diperkirakan telah berdiri sejak era 1940-an. Saat ini, bangunan tersebut masih dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari optik, toko alat kesehatan hingga tempat makan.
Salah satu penyewa, Fredy (45), pemilik Optik Tjiang, mengatakan Pemerintah Kota Kediri telah melakukan sosialisasi terkait rencana penataan kawasan tersebut. Dalam sosialisasi itu, para penghuni diminta mengosongkan bangunan paling lambat akhir November.
Namun, menurut Fredy, hingga kini belum ada penjelasan lebih rinci mengenai tahapan setelah bangunan dikosongkan, termasuk bagaimana nasib bangunan yang memiliki nilai sejarah tersebut.
“Tapi masalah jagar budaya ini mau di merata tanakan atau enggak itu belum ada kejelasan, begitu sih Makanya kami ya belum tahu, terus sampai saat ini juga belum ada surat tindak lanjutnya bagaimana-bagaimana gitu Kami juga kan bingung,” ujarnya.
Bagi Fredy, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut tempat usaha maupun bangunan yang selama ini ditempati. Kawasan Jalan Stasiun memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan keluarganya.
Ia menyebut keluarganya telah tinggal di kawasan tersebut sejak masa kolonial Belanda. Kini, keberadaan keluarganya di kawasan itu telah memasuki generasi kelima.
Deretan bangunan berarsitektur kolonial tersebut juga menjadi bagian dari karakter kawasan sekitar Stasiun Kediri yang menyimpan jejak sejarah perkembangan kota. Karena itu, rencana penataan kawasan membuat keluarga Fredy merasa kehilangan salah satu bagian penting dari perjalanan mereka.
Meski demikian, Fredy menegaskan tidak menolak rencana pemerintah untuk menata kawasan Jalan Stasiun. Ia memahami kebutuhan penataan kota, terutama untuk menyediakan kawasan parkir dan pusat kuliner yang lebih tertata.
Namun, ia berharap pemerintah juga memberikan kepastian mengenai masa depan bangunan-bangunan lama tersebut serta mempertimbangkan nilai sejarah yang melekat di dalamnya.
“Sebenarnya harapan kami ya, ya memang mungkin pemerintah baik ya gitu loh tujuannya untuk bagaimana lahan parkir tertata rapi, tapi ya bagi kami kalau tempat ini sangat penting gitu loh. Bukan masalah apa, tapi storynya itu lho. Itu yang bikin kami satu keluarga itu kena shock semua juga. Kalau masalah lain-lainnya sih ya Kami sudah pasrah juga gitu lho,” pungkasnya.
Bagi penghuni yang telah menempati kawasan tersebut selama puluhan tahun, rencana pembangunan bukan hanya berarti berpindah dari sebuah bangunan. Ada cerita keluarga, aktivitas usaha, serta jejak sejarah kawasan Jalan Stasiun yang ikut dipertaruhkan.
Karena itu, kepastian mengenai penanganan bangunan bersejarah menjadi hal yang dinantikan para penghuni sebelum proses pengosongan dilakukan. [nik/ang]

