Kediri (tahukediri.id) – Usia muda bukan menjadi halangan bagi Abner Reynard Rindakan untuk menorehkan prestasi di dunia seni bela diri asal Jepang. Remaja 14 tahun yang akrab disapa Rey itu berhasil mengumpulkan tiga medali emas dan tiga medali perak sejak bergabungnya ke olahraga Ju-Jitsu pada akhir tahun 2024.
Bagi Rey, olahraga bela diri tersebut bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi juga sebagai salah satu bentuk usaha untuk membanggakan kedua orang tuanya.
Selain itu, Ju-jitsu memiliki daya tarik tersendiri. Menurutnya, olahraga bela diri ini tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, strategi, kelincahan, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi menjadi bagian penting dalam menghadapi lawan.
“Yang menarik dari jujitsu bagi saya adalah tekniknya yang mengandalkan strategi dan kelincahan, bukan hanya kekuatan. Melalui jujitsu saya belajar disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah,” terang remaja yang kini duduk di bangku kelas 9 itu, Rabu (9/9/2026).
Selama menekuni Ju-Jitsu, Rey telah mengikuti sejumlah pertandingan. Ia mengungkapan, salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapinya adalah ketika berada dalam posisi tertekan dan dikunci oleh lawan.
“Jujur paling susah pas di bawah, terus dikunci sama lawan. Nafas udah kehabisan, otak blank. Tapi saya maksa buat diem dulu, tarik nafas, baru cari jalan buat lepas. Capek sih, tapi seru,” ungkapnya.
Perjuangan tersebut perlahan membuahkan hasil. Pada KJMO (Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto Open) 2024, Rey berhasil meraih medali perak. Prestasinya kemudian berlanjut pada berbagai kejuaraan pada 2026.
Di Ngawi Championship 2026, Rey sukses membawa pulang satu medali emas dan satu medali perak. Sementara itu, pada KEJURDA Gresik 2026, ia berhasil meraih dua medali emas. Sebelumnya, pada ajang kejuaraan tahun 2026 lainnya, Rey juga mencatatkan prestasi dengan meraih dua medali perak.
Dari seluruh pertandingan yang pernah diikutinya, Rey menilai Kejuaraan Piala Gubernur Jawa Timur 2026 yang digelar di Wahana Ekspresi Poesponegoro, Gresik, pada 29-30 Agustus 2026 lalu sebagai salah satu pengalaman paling sulit.
Menurutnya, tingkat persaingan pada pertandingan tersebut lebih tinggi dibandingkan kejuaraan sebelumnya. Ia juga menghadapi lawan-lawan yang mayoritas berasal dari Surabaya.
Meski menghadapi lawan yang semakin tangguh, Rey tidak menjadikan kekalahan atau kesulitan sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, kunci keberhasilan seorang atlet adalah disiplin dan kemauan untuk terus belajar dari kesalahan.
“Menurut saya kunci keberhasilan itu disiplin dan mau belajar dari kesalahan. Latian rutin, dengerin pelatih, terus kalau posisi kalah tidak mudah menyerah, dan jangan lupa berdoa,” ujarnya.
Ke depan, lanjut Rey, ia bertekad melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang masih dimilikinya. Ia ingin meningkatkan kualitas latihan dan mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan dengan level yang lebih tinggi.
Target besarnya adalah bisa tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2029 dan meraih medali emas.
“Harapan saya bisa main di Porprov 2029 dan dapat medali emas,” tandasnya. [nik/ang]

