Kediri (tahukediri.id) – Hobi memasak khususnya bikin kue kering yang ditekuni sejak lama membawa berkah tersendiri bagi Yuni Dwi Prastiwi (52). Melalui usaha kue kering bernama Anggraini Cookie’s, ia berhasil mengembangkan bisnis rumahan yang kini bahkan telah menjangkau luar daerah hingga luar negeri.
Berlokasi di sebuah gang kecil, tepatnya di Jl. Adi Sucipto 153 B, Kelurahan Ngadirejo, Ngadisimo, Kota Kediri, di rumah sederhana ini Yuni memulai kembali usahanya di akhir tahun 2025. Sebelumnya Ia mulai usahanya di tahun 2010. Meski sempat berhenti beberapa tahun, usaha ini kini kembali berkembang, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Karena saya itu kan memang dari dulu suka masak. Suka bikin kue dari anak-anak saya masih kecil, terus ini karena saya enggak ada kegiatan. Soalnya dari dulu kan bikin, cuma ini. Saya akhir-akhir ini kok nggak ada kegiatan, Saya pengin punya kegiatan di rumah, tapi yang menghasilkan,” katanya, Sabtu (7/3/2025).
Yuni menceritakan, kembalinya membuka usaha kue kering ini juga terinspirasi oleh ibunya yang dulunya juga memiliki usaha catering. Sehingga ia ingin meneruskan usaha keluarganya.
“Ibu saya dulu kan kue kering juga kerupuk, banyak catering, cuma yang saya bisa kerjakan yang ringan-ringan sesuai dengan kemampuan saya saat ini. Jadi, yang saya pakai ya resepnya ibu saya. Orang tua saya,” terangnya.

Dibantu oleh anak-anak dan keponakannya, Ibu lima anak ini bisa menghasilkan berbagai macam kue kering setiap harinya. Terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti. Kedua keponalannya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA ini kerap membantu dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB jika hari sekolah.
Yuni menjelaskan, permintaan kue Anggraini Cookie’s meningkat cukup signifikan menjelang Lebaran. Jika pada hari biasa ia hanya memproduksi sekitar 1 hingga 2 kilogram kue, pada musim Lebaran jumlah pesanan meningkat berkali lipat.
Dalam sehari Yunie mampu memproduksi sekitar 3 sampai 5 kilogram kue, tergantung jenisnya. Ia juga bisa membuat sekitar empat hingga lima jenis kue berbeda dalam satu hari. Mulai dari nastar, nastar klasik, nastar keju, kastengel, sagu keju, choco chip, putri salju, kue kacang, dan lain sebagainya.
“Produksinya bisa sekitar 4 kilo, 3 kilo, 5 kilo bisa saya. Kalau nastar tapi nggak sampai, cuma kalau kue-kue biasa itu bisa sampai 5 kilo, 4 kilo,” ujarnya.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Untuk satu toples kue, harga paling murah dibanderol mulai Rp50.000. Sementara toples kecil ukuran 60 mililiter dijual Rp57.000 dan ukuran besar sekitar Rp72.000 per toples.
Pemasaran kue Anggraini Cookie’s tidak hanya di Kediri. Banyak pesanan datang dari luar kota seperti Surabaya dan Sidoarjo. Bahkan, beberapa pelanggan memesan hingga ke luar daerah dan luar negeri.
Salah satunya pesanan dari Makassar yang datang dari teman Yunie yang pernah mencicipi kuenya saat berkunjung. Terakhir pesanan untuk dibawa ke Jepang dari pelanggan yang tertarik setelah mencoba taster yang diberikan.
“Kemarin ada kakaknya teman anak saya itu mau ke Jepang juga pesan 3 kilo atau 4 kilo, itu kemarin dia dibawa ke Jepang. Tiga macam atau empat macam, tiga macam,” ungkapnya.
Selain menjual kue dalam toples, tahun ini Yunie juga mulai menerima pesanan hampers. Permintaan hampers datang sejak momen Natal dan Imlek, dan meningkat pesat menjelang Lebaran.
“Untuk hampers ini baru mulai tahun ini. Dari Natal sudah ada pesanan, lalu Imlek, dan sekarang menjelang Lebaran jauh lebih banyak lagi,” katanya.
Dari usaha rumahan ini, Yunie mampu meraih omzet lebih dari Rp10 juta per bulan pada periode biasa. Menjelang Lebaran tahun ini, ia memperkirakan omzetnya bisa meningkat hingga sekitar Rp25 juta.
Dengan tekad dan kecintaan pada dunia memasak, Yunie berharap usaha kue keringnya dapat terus berkembang, semakin dikenal, dan dapat menyalurkan ilmunya pada masyarakat luas. [nik/ang]

