Kediri (tahukediri.id) – Banjir yang kembali menggenangi sejumlah ruas jalan di Kota Kediri pada penghujung 2025 menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Kediri untuk menata ulang sistem pengendalian banjir. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Pemkot memastikan akan melakukan review menyeluruh terhadap master plan drainase pada 2026.
Kepala DPUPR Kota Kediri, Endang Kartika Sari, mengatakan langkah tersebut diambil sebagai respons atas keluhan masyarakat yang masih menghadapi genangan air saat hujan dengan intensitas tinggi. Master plan drainase yang selama ini digunakan dinilai perlu diperbarui agar sesuai dengan kondisi terkini Kota Kediri.
“Untuk pengendalian banjir, kita akan melakukan review master plan drainase untuk menentukan debit air. Master plan sebelumnya disusun menggunakan data sekunder. Di 2026 ini kita susun menggunakan data primer melalui survei langsung di lapangan,” ujar Endang.
Ia menjelaskan, penyusunan master plan baru akan melibatkan pengukuran saluran secara langsung, pemetaan aliran air, serta pembaruan data curah hujan. Data tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan dimensi drainase yang ideal untuk menghadapi kondisi hujan hingga 10 tahun ke depan.
“Termasuk data curah hujan terbaru, sehingga nanti bisa didapatkan dimensi drainase yang sesuai untuk kebutuhan jangka panjang,” katanya.
Kajian master plan drainase tersebut direncanakan mulai dilakukan pada 2026 dan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun. Dari hasil kajian itu, DPUPR akan memetakan saluran-saluran drainase yang dimensinya sudah tidak sesuai untuk kemudian dilakukan rehabilitasi.
Sejumlah titik yang selama ini kerap menjadi lokasi genangan juga masuk dalam perhatian. Di antaranya kawasan perempatan Reco Pentung (Jalan Kilisuci), dan Jalan Joyoboyo. Sementara di Jalan Pattimura, DPUPR menilai saluran utama relatif sudah memadai, namun masih terdapat persoalan pada jalur penunjang.
“Di Jalan Panglima Sudirman, tahun 2026 ini akan kita selesaikan sampai ke saluran di sisi Ramayana. Crossing-nya akan kita perbesar untuk mengurai genangan yang terjadi di Jalan Pattimura,” jelas Endang.
Menurutnya, salah satu penyebab genangan di kawasan tersebut adalah crossing drainase di samping Ramayana yang terlalu rendah dengan dimensi saluran yang masih kecil. DPUPR berencana memperbesar saluran tersebut menggunakan box cover agar aliran air dapat berjalan lebih lancar.
Selain itu, penanganan drainase juga dilakukan di Jalan Dr. Saharjo untuk mengurai genangan yang berdampak ke kawasan Lirboyo dan Jalan Veteran. Untuk proyek di Jalan Panglima Sudirman, Pemkot Kediri mengalokasikan anggaran sekitar Rp6 miliar. Sementara penanganan drainase di Jalan Dr. Saharjo disiapkan anggaran sebesar Rp1,2 miliar.
Endang menegaskan, review master plan drainase ini diharapkan menjadi pijakan agar penanganan banjir di Kota Kediri tidak lagi bersifat reaktif. Dengan basis data primer dan pemetaan lapangan, DPUPR ingin memastikan setiap intervensi infrastruktur benar-benar menjawab persoalan aliran air di perkotaan.
Namun, kajian yang baru akan rampung pada pertengahan 2026 itu juga menandai bahwa persoalan banjir bukan pekerjaan singkat. Sementara hujan akan terus datang, warga masih berharap genangan tak lagi menjadi pemandangan rutin di jalan-jalan kota. Di titik inilah, rencana dan pelaksanaan diuji, apakah benar mampu mengubah alarm banjir menjadi perbaikan yang terasa. [tan/ang]

