Ringkasan Berita:
- DP2KBP3A Kabupaten Kediri mulai mendampingi korban dugaan pencabulan di Ngadiluwih.
- Pendampingan difokuskan pada pemulihan psikologis anak korban.
- Jumlah korban sementara bertambah dari 10 menjadi 13 anak.
- Polisi masih mendalami kasus dan proses hukum terus berjalan.
Kediri (tahukediri.id) – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Kediri mulai melakukan pendampingan terhadap anak korban dugaan pencabulan oleh seorang tokoh agama di Kecamatan Ngadiluwih, Senin, 18 Mei 2026.
Pendampingan dilakukan dengan fokus utama pada pemulihan psikologis anak-anak korban yang saat ini masih dalam proses asesmen awal.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP2KBP3A Kabupaten Kediri, Intan Candra Dewi, mengatakan pihaknya belum dapat menyampaikan detail lebih jauh terkait kondisi korban karena proses pendampingan masih tahap awal.
“Ini sifatnya kita kan masih awal, nggih, pendampingan awal. Nanti kami bekerja sama dengan teman-teman dari Puskesmas juga. Kita asesmen dulu, nggih. Jadi kita fokus ke pemulihan dulu,” ujarnya saat ditemui awak media di rumah RT setempat.
DP2KBP3A Kabupaten Kediri juga menggandeng psikolog klinis dan pihak puskesmas untuk memastikan kondisi mental serta kesehatan anak-anak korban dapat dipantau secara menyeluruh.
“Jadi kami dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, ini karena menyangkut anak korbannya. Jadi saat ini kami mendampingi psikologis anak untuk penyembuhan psikologisnya saja,” imbuhnya.
Sebelumnya, seorang warga berinisial HJ (63) yang dikenal sebagai penasihat takmir setempat diamankan anggota Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Kediri pada Sabtu malam, 17 Mei 2026.
Ketua RT setempat, Mujiarto, mengatakan dugaan perbuatan tersebut mulai terungkap setelah salah satu anak korban menceritakan kejadian yang dialami kepada orang tuanya.
“Itu pertama ada empat anak, itu ada empat anak yang salah satunya itu mengadu ke orang tuanya Mengadu ke orang tuanya, terus orang tuanya itu Intinya lapor ke saya, terus begitu lapor ke saya, saya juga izin Pak Kasun, izin Pak Kaur Kesejahteraan, saya mau menemui Pak Harjito, akhirnya Pak Harjito saya temui,” terangnya.
Menurut Mujiarto, para orang tua korban sempat melakukan mediasi dengan terduga pelaku. Namun mediasi pertama tidak menghasilkan kesepakatan dan laporan korban justru terus bertambah.
Pada mediasi kedua, terduga pelaku disebut tidak hadir sehingga memicu kekecewaan keluarga korban dan kasus akhirnya dilaporkan lebih lanjut.
“Rabu Pak HJ diuntang gak hadir. Akhirnya dari pihak orang tua ya, timbulah rasa emosi untuk dilanjutkan ke KPAI Itu hari Kamis, terus hari Sabtu-nya itu dibawa polisi,” jelasnya.
Kasi Kesejahteraan perangkat desa setempat, Arik, menyebut jumlah korban sementara bertambah menjadi 13 anak dari sebelumnya sekitar 10 anak.
“Sampai saat ini sesuai dengan pemberitaan kemarin itu 10, tapi ternyata ada 13. Cuma tracing kita juga belum kita lakukan lebih mendalam lagi,” terangnya.
Terduga pelaku diketahui merupakan seorang pensiunan yang selama ini aktif sebagai penasihat takmir dan kerap mengisi kajian di salah satu masjid di sekitar tempat tinggalnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan tindakan pencabulan dilakukan saat anak-anak peserta pengajian sedang memasuki waktu istirahat.
Hingga kini proses penyelidikan dan pendalaman kasus masih terus dilakukan aparat kepolisian.
“Tunggu update-nya ya,” kata Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan.
Pihak terkait menegaskan perlindungan identitas korban serta pemulihan kondisi psikologis anak menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus tersebut. [nik/ang].

