Kediri (tahukediri.id) – Di tengah gejolak harga bahan baku yang tidak menentu, Madumongso Bu Binti tetap eksis dengan mempertahankan harga normalnya.
Madumongso Bu Binti merupakan salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berlokasi di Dahu, Jatirejo, Banyakan, Kabupaten Kediri. Tepat satu April nanti UMKM yang kini telah memiliki 10 produk olahan sendiri berumur tujuh tahun.
Pemilik Madumongso Bu Binti, Binti Sholihah, mengatakan, bahwa awal ia merintis usahanya hanya berfokus pada madumongso, namun sering berjalannya waktu ia mengembangkan produksi olahan tradisional lainnya, mulai dari jenang, wajik, jadah, sambal pecel, hingga rengginang.
“Yang kita produksi awalnya cuma madumongso saja. Terus ya, terus ada tambahan lagi ada jenang, ada wajik, pokoknya kita yang kita produksi ini sudah ada 10 macam produksi yang kita produksi sendiri,” ujarnya saat ditemui Selasa, (14/4/2026).
Menurut Biniti, Madumongso masih menjadi produk andalan yang paling banyak dicari pelanggan. Namun, variasi produk justru menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pembeli yang awalnya hanya ingin membeli madumongso, akhirnya turut membeli produk lainnya.
Dari segi ketahanan, madumongso menjadi produk paling awet karena berbahan dasar tape fermentasi, sehingga dapat bertahan hingga 2 – 3 bulan. Sementara jenang bertahan sekitar satu minggu, wajik 2 – 3 hari, dan jadah hanya satu hari.
Momen Lebaran menjadi lonjakan permintaan paling tinggi dibanding hari biasanya. Pada periode tersebut, produksi bisa meningkat hingga lima kali lipat dibanding hari biasa. Bahkan tahun ini jumlah produksinya lebih meningkat dibanding tahun lalu. Sementara untuk permintaan hantaran biasanya ada setiap akhir pekan.

“Tahun ini pun juga masih meningkat, ya. Karena tahun kemarin kita produksi madumongso itu 6 ton, 6 ton madu mangsa. Untuk tahun ini kita bisa produksi 8,5 ton dan alhamdulillah habis,” ungkapnya.
Meski harga bahan baku seperti ketan dan gula mengalami kenaikan, pihaknya memilih tetap mempertahankan harga jual. Strateginya adalah meningkatkan jumlah produksi untuk menutup kenaikan biaya.
“Selama ini ya masih harga masih tetap. Soalnya, berpikirnya kita berusaha meningkatkan produksi yang banyak. Jadinya bisa menutupi harga-harga yang, ya, enggak kayak biasanya,” ujarnya.
Produk Madumongso Bu Binti tak hanya terkenal di daerah lokal saja tetapi juga luar daerah seperti Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Bahkan, setiap hari Kamis pihaknya rutin mengirim jenang ke Hongkong dan Taiwan.
Selain membuka gerai sendiri, Madumongso Bu Binti juga dilakukan melalui marketplace, terutama untuk produk madumongso, jenang, kering kentang, dan sambal pecel. Permintaan biasanya meningkat pada akhir pekan.
Bu Binti memastikan seluruh produk dibuat setiap hari agar tetap segar. Untuk kebutuhan mendadak, pembeli juga bisa langsung datang karena stok selalu tersedia.
Harga setiap produknya bervariasi Untuk jenang dengan berat 2-3 kg yakni Rp140.000-Rp200.000, Wajik 2-3kg Rp110.000-Rp150.000, Jadah 2-3 kg Rp100.000-Rp140.000. Sedangkan untuk madumongso mulai dari Rp75.000.
Tak hanya memproduksi sendiri, Binti juga memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk menitipkan produknya, meski dalam jumlah terbatas. [nik/ang]

