Kediri (tahukediri.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dhoho Kediri menjelaskan penyebab kondisi cuaca tak menentu belakangan ini. Hujan yang datang tiba-tiba lalu disusul cuaca panas serta angin kencang disebut berkaitan dengan pengaruh siklon tropis di wilayah Samudera Hindia.
Staf Operasional BMKG Dhoho Kediri, Mafian, menyampaikan bahwa saat ini terpantau adanya tropical cyclone bernama 91S yang berada di wilayah Samudera Hindia, sebelah barat Australia. Siklon tersebut mulai terdeteksi sejak 24 Januari 2026 pukul 01.00 WIB dan masih memberikan dampak tidak langsung terhadap wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, Kediri khususnya.
“Itu (91S) juga yang menyebabkan potensi cuaca ekstrem, termasuk angin kencang. Beberapa hari kemarin hingga hari ini juga masih terasa,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Nanum Mafian menegaskan, kondisi hujan yang tidak merata dan cuaca yang cepat berubah di Kediri ini belum memasuki masa peralihan musim. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan masih berlangsung hingga Februari.
“Kalau dilihat, prediksi puncak musim hujan masih terjadi pada Januari sampai Februari. Jadi saat ini belum memasuki masa peralihan musim,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mafian menjelaskan bahwa siklon tropis tersebut memengaruhi pergerakan massa udara di wilayah Indonesia. Massa udara di Samudera Hindia bagian barat tertarik menuju pusat siklon di barat Australia, sehingga massa udara dari wilayah barat Indonesia terdorong masuk ke wilayah Pulau Jawa.
“Akibatnya, massa udara dari sebelah barat Indonesia tertarik masuk ke wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa. Maka, di wilayah Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur termasuk Kediri, terjadi peningkatan pertumbuhan awan yang cukup signifikan. Dari pengaruh TC tersebut, terjadi banyak pertumbuhan awan di Jawa Timur, khususnya Kediri dan sekitarnya. Selain itu, beberapa hari ini angin juga menjadi cukup kencang,” jelasnya.
Meski begitu, Mafian memastikan bahwa dampak siklon tropis ini di wilayah Kediri tidak bersifat ekstrem. Hal itu disebabkan posisi siklon yang lebih dekat dengan Australia.
“Secara umum, wilayah Indonesia terdampak, khususnya Jawa Timur, termasuk Kediri dan sekitarnya. Namun, dampaknya tidak sampai ekstrem,” terangnya.
Sementara terkait hujan yang turun tidak merata, Mafian menyebut hal tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan pergerakan awan akibat pengaruh siklon tropis.
“Kalau angin tidak kencang, hujan biasanya lebih merata. Namun saat ini hujan tidak merata karena sangat dipengaruhi oleh TC Launa,” ujarnya.
Mafian menambahkan, bahwa fenomena siklon tropis memang umumnya terjadi setiap tahun saat musim hujan, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Dampak yang lebih besar biasanya dirasakan di wilayah Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Tropical cyclone ini durasinya bisa berhari-hari, dua sampai tiga hari, selama siklonnya masih aktif,” pungkasnya. [nik/ang]

