Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Jejak Iman Abad ke-19, Al-Kitab Kuno Berusia 158 Tahun Tersimpan di Gereja Merah Kediri

    Jejak Iman Abad ke-19, Al-Kitab Kuno Berusia 158 Tahun Tersimpan di Gereja Merah Kediri

    Inggar Tania LaurinaInggar Tania Laurina News 25 Desember 2025 - 15:39
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Sset bersejarah Gereja Merah Kediri Al-Kitab kuno berusia 158 tahun. [Tania/tahukediri.id]
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat “Immanuel” Kediri atau Gereja Merah tidak hanya menyimpan bangunan cagar budaya, tetapi juga memiliki aset bersejarah berupa Al-Kitab kuno berusia 158 tahun. Usia kitab suci tersebut bahkan lebih tua dibandingkan bangunan gereja yang berdiri sejak 1904.

    Juru Pelihara Gereja Merah, Lorens Hendrik, mengatakan Al-Kitab kuno tersebut menggunakan bahasa Belanda dan kondisinya saat ini sekitar 85 persen, sehingga membutuhkan penanganan khusus.

    “Al-Kitab ini usianya sudah 158 tahun dan lebih tua dari gedung gereja ini. Karena kondisinya sudah rapuh, tidak semua orang boleh membuka,” ujar Lorens Hendrik.

    Al-Kitab kuno tersebut memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya tersimpan di Gereja Merah Kediri. Kitab ini dibawa oleh Pendeta Brurie, yang pernah bertugas di Gereja Merah pada 1985-1990. Saat bertugas di Palembang, ia menemukan Al-Kitab tersebut di gudang terbengkalai dan memutuskan menyelamatkannya.

    “Beliau menemukan Al-Kitab ini di gudang yang sudah lama tidak terawat. Karena melihat kondisinya, akhirnya dibawa dan disimpan agar tidak semakin rusak,” jelas Lorens Hendrik.

    Setelah sempat dibawa ke Yogyakarta, Al-Kitab tersebut akhirnya dipindahkan ke Kediri pada tahun 1995 dan disimpan di Gereja Merah. Kesadaran akan nilai sejarahnya meningkat pada peringatan 100 tahun Gereja Merah sekitar 2005-2006, hingga dibuatkan tempat penyimpanan khusus.

    Melihat kondisi fisik yang semakin rapuh, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri telah melakukan digitalisasi dengan memindai halaman demi halaman agar isi Al-Kitab tetap dapat diakses tanpa merusak bentuk aslinya.

    “Tahun kemarin sudah dipindai lembar per lembar dan disimpan secara digital. Jadi kalau ingin melihat isinya tidak harus membuka yang asli,” ungkapnya.

    Disarpus Kota Kediri juga berencana melakukan restorasi terhadap Al-Kitab kuno tersebut. Namun, proses restorasi masih dalam tahap kajian dan akan dilakukan di lokasi gereja, tanpa memindahkan Al-Kitab ke luar.

    “Arahan dari Disarpus, Al-Kitab ini tetap disimpan di sini demi keamanan dan kelestariannya. Restorasinya nanti juga dikerjakan di tempat,” tambah Lorens Hendrik.

    Saat ini, Al-Kitab kuno tersebut dipamerkan secara terbatas mulai 21 Desember hingga 1 Januari sebagai sarana edukasi bagi jemaat dan masyarakat. Gereja Merah juga kerap menerima kunjungan edukatif dari pelajar berbagai jenjang, dari SD hingga SMA, sebagai bagian dari wisata religi dan pembelajaran sejarah di Kota Kediri.

    “Banyak sekolah yang datang ke sini untuk belajar, bukan hanya tentang gereja, tapi juga sejarah dan cagar budaya. Itu penting untuk edukasi generasi muda,” tutupnya.

    Keberadaan Al-Kitab kuno ini menegaskan peran Gereja Merah Kediri sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pelestarian warisan sejarah dan toleransi antarumat beragama di Kota Kediri. [tan/ang]

    Berita Kediri jatim kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleSoft Opening Museum Sri Aji Joyoboyo, Bupati Kediri Tekankan Penyempurnaan Narasi Sejarah
    Next Article Libur Sekolah, Alas Simpenan Kediri Jadi Favorit Anak-anak untuk Lihat Monyet dan Nikmati Alam

    Info Lainnya

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56

    Waspada Penipuan Investasi Bodong, BRI Nganjuk Ingatkan Warga Jangan Tergiur Imbal Hasil Tinggi Tak Wajar

    31 Agustus 2026 - 13:45
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.