Kediri (tahukediri.id) – Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat “Immanuel” Kediri atau Gereja Merah tidak hanya menyimpan bangunan cagar budaya, tetapi juga memiliki aset bersejarah berupa Al-Kitab kuno berusia 158 tahun. Usia kitab suci tersebut bahkan lebih tua dibandingkan bangunan gereja yang berdiri sejak 1904.
Juru Pelihara Gereja Merah, Lorens Hendrik, mengatakan Al-Kitab kuno tersebut menggunakan bahasa Belanda dan kondisinya saat ini sekitar 85 persen, sehingga membutuhkan penanganan khusus.
“Al-Kitab ini usianya sudah 158 tahun dan lebih tua dari gedung gereja ini. Karena kondisinya sudah rapuh, tidak semua orang boleh membuka,” ujar Lorens Hendrik.
Al-Kitab kuno tersebut memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya tersimpan di Gereja Merah Kediri. Kitab ini dibawa oleh Pendeta Brurie, yang pernah bertugas di Gereja Merah pada 1985-1990. Saat bertugas di Palembang, ia menemukan Al-Kitab tersebut di gudang terbengkalai dan memutuskan menyelamatkannya.
“Beliau menemukan Al-Kitab ini di gudang yang sudah lama tidak terawat. Karena melihat kondisinya, akhirnya dibawa dan disimpan agar tidak semakin rusak,” jelas Lorens Hendrik.
Setelah sempat dibawa ke Yogyakarta, Al-Kitab tersebut akhirnya dipindahkan ke Kediri pada tahun 1995 dan disimpan di Gereja Merah. Kesadaran akan nilai sejarahnya meningkat pada peringatan 100 tahun Gereja Merah sekitar 2005-2006, hingga dibuatkan tempat penyimpanan khusus.
Melihat kondisi fisik yang semakin rapuh, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri telah melakukan digitalisasi dengan memindai halaman demi halaman agar isi Al-Kitab tetap dapat diakses tanpa merusak bentuk aslinya.
“Tahun kemarin sudah dipindai lembar per lembar dan disimpan secara digital. Jadi kalau ingin melihat isinya tidak harus membuka yang asli,” ungkapnya.
Disarpus Kota Kediri juga berencana melakukan restorasi terhadap Al-Kitab kuno tersebut. Namun, proses restorasi masih dalam tahap kajian dan akan dilakukan di lokasi gereja, tanpa memindahkan Al-Kitab ke luar.
“Arahan dari Disarpus, Al-Kitab ini tetap disimpan di sini demi keamanan dan kelestariannya. Restorasinya nanti juga dikerjakan di tempat,” tambah Lorens Hendrik.
Saat ini, Al-Kitab kuno tersebut dipamerkan secara terbatas mulai 21 Desember hingga 1 Januari sebagai sarana edukasi bagi jemaat dan masyarakat. Gereja Merah juga kerap menerima kunjungan edukatif dari pelajar berbagai jenjang, dari SD hingga SMA, sebagai bagian dari wisata religi dan pembelajaran sejarah di Kota Kediri.
“Banyak sekolah yang datang ke sini untuk belajar, bukan hanya tentang gereja, tapi juga sejarah dan cagar budaya. Itu penting untuk edukasi generasi muda,” tutupnya.
Keberadaan Al-Kitab kuno ini menegaskan peran Gereja Merah Kediri sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pelestarian warisan sejarah dan toleransi antarumat beragama di Kota Kediri. [tan/ang]

