Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»Seni dan Budaya»Jejak Mistis Masjid Bayem Kediri: Berdiri di Atas Reruntuhan Pabrik Serat Nanas Belanda yang Angker

    Jejak Mistis Masjid Bayem Kediri: Berdiri di Atas Reruntuhan Pabrik Serat Nanas Belanda yang Angker

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti Seni dan Budaya 20 Februari 2026 - 19:15
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Masjid Bayem Karangdinoyo Kediri. [Nanik/tahukediri.id]
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Di tengah Dusun Karangdinoyo, Desa Kepung, Kecamatan Kepung berdiri kokoh sebuah masjid yang menyimpan sejarah panjang magnet peribadatan agama islam Kabupaten Kediri, yakni Masjid Bayem Karangdinoyo.

    Siapa yang tahu Masjid Bayem Karangdinoyo yang tampak damai berdiri di atas pondasi pabrik serat nanas peninggalan Belanda. Pabrik tersebut pernah dibom dan akhirnya terbengkalai.

    Takmir Imam Masjid Bayem Karangdinoyo, Sulton Hakim mengatakan, bahwa sebelum masjid itu berdiri, pabrik itu terkenal angker. Bahkan di sisi selatan dan timur lokasi dulu diyakini banyak dihuni makhluk halus. Ular berkeliaran, pepohonan besar tumbuh lebat, dan suasana terasa mencekam.

    “Angker dulunya. Kidul Wetan akeh demite (Selatan, Timur itu banyak hantunya), ular sudah kaya cacing. Banyak pohon-pohon besar,” tuturnya sambil mengenang masa itu.

    Di bawah bangunan masjid, konon terdapat sebuah ruangan kecil yang dahulu digunakan untuk semedi. Para kiai melakukan riyadhoh dan tirakat sebelum dan saat proses pendirian masjid.

    “Sebelum pendirian masjid, berbagai cara untuk riyadhoh, tirakat. Berjuang sampai jadi masjid,” ujar Sulton.

    Sebagian orang yang mengaku memiliki kemampuan spiritual bahkan menyebut masjid ini sebagai “pesanggrahan” makhluk dari Laut Kidul yang singgah dalam perjalanan menuju Laut Lor. Cerita-cerita mistis pun menyertai proses renovasi. Saat rehab, seorang kiai disebut pernah “ditawari” menaiki kereta kencana secara gaib. Namun semua itu, menurut Sulton, kembali pada keimanan masing-masing.

    Menurut Sulton, kompleks pabrik peninggalan Belanda itu dulunya luas, membentang hingga Desa Sembeledekan dan Pondok Ringinagung. Menurut cerita turun-temurun, limbah pabrik dulu mencemari sungai hingga membuat santri yang mandi di kali mengalami gatal-gatal.

    Seorang ulama setempat, yakni Mbah Kyai Makun Ringinagung, disebut pernah memimpin aksi protes terhadap pengelola pabrik sampai akhirnya bangunan tersebut dibiarkan terbengkalai.

    “Namanya Mbah Kyai Makun itu cara saiki demo ya, nang gone sing duwe pabrik iki, akhire bongkor. Mbuh Kyai piye lek nemu carane kok sampe bongkor (Cara sekarang demo ya, ke yang punya pabrik ini, akhirnya dibiarkan terbengkalai. Tidak tahu Kyai gimana kalau ketemu caranya kon sampai terbengkalai),” katanya.

    Saat ini pun masih ada kontruksi yang tersisa, di antaranya pilar-pilar, bongkahan bekas pabrik, bunker, hingga besi rel kereta uap yang terpendam di tanah sekitar masjid.

    Pada tahun 1984, lanjutnya, bekas pabrik itu mulai dibersihkan, lalu didirikan masjid oleh KH. Khamim di atas pondasi dan sisa-sisa struktur bangunan lama dengan arah kiblat yang disesuaikan.

    “Kyai Haji Hamim namanya. Itu pendiri dan yang mengopeni, yang tuku sekitar tanah untuk dibentuk jalan, juga, itu berdiri tahun 1984,” imbuhnya.

    KH Haji Hamim juga membeli sebagian tanah untuk akses jalan dan mengelola pembangunan masjid. Pendirian masjid dilatarbelakangi kebutuhan jamaah yang kian membludak di masjid lama yang tak lagi mampu menampung warga.

    Seiring waktu, bangunan mengalami beberapa kali renovasi. Pada 2012, kubah masjid sempat miring dan akhirnya direhabilitasi hingga selesai pada 2014. Renovasi kembali dilakukan pada 2020 hingga sekarang.

    Dahulu, di sisi selatan masjid terdapat kolam atau tempat sesuci. Namun karena airnya keruh, kolam tersebut direhab menjadi kamar mandi, tempat wudhu, dan toilet yang lebih layak.

    Meski begitu, menurut Sulton, jamaah Masjid Bayem tidak seramai dulu, yang bisa full setiap harinya. Tapi ia juga tidak membantah bahwa hingga saat ini jamaah masih aktif.

    “Sampai sekarang alhamdulillah aktif, jemaah juga aktif, tapi kalau jemaahnya belum bisa seperti dulu. Kalau dulu full, tapi kalau Jumatan tetepnrame, kalau Idul Fitri tumpah sampai ke jalan,” ungkapnya.

    Nama Masjid Bayem sendiri dipilih karena diyakini dapat memberi ketenangan dan kedamaian. Sebelumnya bernama Masjid Al-Amin.Tak ayal, seirimg berjalannya waktu, masjid ini dikenal sebagai tempat yang menentramkan. Tak jarang orang dengan gangguan jiwa datang hanya untuk tidur dan mencari ketenangan.

    Status tanah yang dulunya bekas peninggalan Belanda kini juga telah resmi bersertifikat wakaf sejak 2012. “Alhamdulillah, tanah sudah merdeka. Sudah jadi milik masyarakat untuk ibadah,” terang Sulton.

    Di balik kisah mistis dan sejarah panjangnya, Masjid Bayem berdiri sebagai simbol transformasi, dari reruntuhan pabrik kolonial yang angker menjadi tempat sujud yang menebar kedamaian. Sebuah perjalanan dari masa lalu kelam menuju cahaya spiritual yang terus menyala di Dusun Karangdinoyo. [nik/ang]

    Berita Kediri jatim Kabupaten Kediri Masjid Bayem Kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleMasjid Agung Kota Kediri Susun Penceramah Ramadan Lewat Rapat Tim
    Next Article Jalan Jaksa Agung Suprapto Kediri Dipadati Pedagang Takjil dan Pemburu Menu Berbuka

    Info Lainnya

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56

    Sensus Ekonomi Kediri Hampir Rampung, Usaha Online Jadi Salah Satu Tantangan

    29 Agustus 2026 - 19:48
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.