Kediri (tahukediri.id) – Akses lalu lintas di Jembatan Kaliombo I Kota Kediri resmi ditutup total mulai Kamis (29/5/2026) pukul 16.00 WIB. Langkah penutupan ini diambil menyusul dimulainya proyek rehabilitasi total terhadap infrastruktur jembatan lama yang dinilai sudah memasuki fase kritis dan membutuhkan penanganan serius.
Proyek strategis ini diproyeksikan akan mengubah total wajah dan kekuatan struktur jembatan demi menjamin keselamatan para pengguna jalan dalam jangka panjang.
Konstruksi Pelengkung Bata Tahun 1940 Rusak Berat
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1 Provinsi Jawa Timur Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali, Mahatma Manurung, mengungkapkan bahwa Jembatan Kaliombo I merupakan aset infrastruktur tua. Berdasarkan data inventarisasi, jembatan berkonstruksi pelengkung batu bata ini diperkirakan dibangun sejak tahun 1940.
Akibat beban logistik kendaraan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, kondisi kelayakan struktur jembatan saat ini telah merosot tajam ke level Nilai Kondisi (NK) 3 atau masuk kategori rusak berat.
“Konstruksi pelengkung batu bata. Jadi kalau menurut inventarisasi kita, jembatan itu dibuat tahun 1940. Sehingga pada saat ini kondisi NK-nya sudah NK 3,” urai Mahatma.
Guna mengatasinya, tim teknis akan membongkar seluruh sisa konstruksi pelengkung lama yang berada di bawah lantai jembatan. Sebagai gantinya, struktur jembatan akan dibangun ulang menggunakan box culvert berbahan beton pracetak modular yang diklaim jauh lebih kokoh dan memiliki usia pakai (lifetime) yang lebih panjang.
Anggaran Rp15,9 Miliar dan Target Percepatan
Pekerjaan modernisasi infrastruktur jalan ini diarsiteki oleh BBPJN Jawa Timur-Bali di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. Total pagu anggaran yang dialokasikan untuk perombakan total ini mencapai Rp15,9 miliar.
Merujuk pada kontrak kerja awal, proyek ini ditargetkan selesai sepenuhnya pada 11 Desember 2026. Kendati demikian, pihak pelaksana optimistis proses pengerjaan di lapangan bisa dipacu lebih cepat dari jadwal semula.
“Sesuai dengan jadwal kita sebenarnya 11 Desember. Cuma nanti kalau ada penutupan, kita bisa percepat lah. Mudah-mudahan November sudah selesai,” tegas Mahatma.
Ia menambahkan, durasi pengerjaan fisik ini memakan waktu beberapa bulan karena dipengaruhi oleh kompleksitas tahapan teknis. Mulai dari pembersihan total material bangunan lama, penggalian dan pemancangan pondasi baru, hingga proses pematangan pengecoran beton yang wajib mengikuti standar baku uji kekuatan teknik.
Skema Pengalihan Arus Lalu Lintas Total
Sementara itu, KBO Satlantas Polres Kediri Kota, Iptu Murnianto, menjelaskan bahwa sterilisasi area jembatan berlaku penuh untuk seluruh jenis kendaraan roda empat atau lebih, baik yang datang dari arah Alun-Alun menuju Jetis maupun rute sebaliknya.
“Saat ini di Jembatan Kaliombo I ditutup secara maksimal. Artinya yang dari Alun-Alun menuju ke arah Jetis tidak bisa lewat, begitu juga sebaliknya. Jadi ditutup total,” terang Iptu Murnianto.
Guna mengantisipasi potensi kemacetan di jantung kota, pihak kepolisian berkolaborasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas PU, DLLAJ, hingga personel PAM Swakarsa untuk bersiaga di sejumlah titik persimpangan krusial.
Rute Alternatif Kendaraan Roda Empat:
Arah Tulungagung menuju Surabaya: Kendaraan diarahkan memutar mulai dari Simpang Tiga Jetis menuju Simpang Empat Bence, melewati Terminal Lama, hingga tembus ke jalur Sumur Bor menuju terminal baru.
Arah Surabaya menuju Tulungagung (Khusus Bus): Arus kendaraan dialihkan melalui rute Simpang Empat Mapan, melewati Kantor Pos, Kodim Selatan, hingga nantinya keluar kembali ke jalur utama menuju arah Tulungagung.
Iptu Murnianto berharap skema rekayasa arus lalu lintas yang diterapkan selama masa rekonstruksi ini dapat dipatuhi oleh masyarakat demi kelancaran bersama. Jika terjadi penumpukan volume kendaraan pada jam-jam sibuk, personel gabungan siap melakukan sistem penarikan arus manual.
“InsyaAllah perkiraan mudah-mudahan lancar. Kalau terjadi kepadatan, kita melakukan penarikan baik di ruas jalan tertentu seperti di Simpang Empat Alun-Alun, termasuk di Simpang Empat Baruna,” pungkasnya. [nik/ang]

