Kediri (tahukediri.id) – Keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi Siti Musripah, asal Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri terus berkarya.
Berawal dari coba-coba merajut pada tahun 2014, perempuan berusia 40 tahun ini berhasil mengembangkan usaha kerajinan rajut “Siti Handmade” yang dipelajarinya secara otodidak menjadi sumber penghasilan utama.
“Pertama coba-coba, karena lucu (lihat rajutan) trus pengerjaannya cepet,” katanya saat ditemui.
Produk buatannya yang unik dan penuh kreativitas banyak diminati pelanggan dari berbagai daerah seperti Bojonegoro, Madiun, Bali bahkan pernah menembus luar negeri.
Berbagai produk rajutan berhasil Siti buat, mulai dari dompet, tas, hingga gantungan kunci. Namun, gantungan kunci menjadi produk paling laris di pasaran. Bentuk-bentuk seperti teddy bear dan bebek menjadi favorit pembeli. “Yang ramai gantungsn kunci,” katanya.
Menurut Siti pemesana dalam jumlah besar biasanya dijual kembali. Bahkan, dalam satu bulan, pesanan di Bali bisa mencapai 200 hingga 400 unit dalam sebulan.
Sementara dalam sehari, Siti mampu memproduksi sekitar 5 hingga 20 item, bergantung tingkat kesulitan. Harga produknya pun bervariasi, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp35 ribu.
Pemasaran dilakukan secara online melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, serta pemesanan langsung via WhatsApp. Cara ini terbukti efektif memperluas jangkauan pasar. “Yang paling sering Bojonegoro sama Madiun,” imbuhnya.
Selain melayani pesanan individu, Siti juga kerap menerima order dalam jumlah besar untuk kebutuhan souvenir berbagai acara, seperti Lebaran dan Natal. Desain produk biasanya menyesuaikan tema, seperti karakter berhijab saat Lebaran.
Dalam kesehariannya, Siti merajut sejak pukul 06.00 WIB hingga malam hari. Di atas kursi rodanya, semua proses ia kerjakan sendiri tanpa bantuan. Namun bukan berarti tanpa hambatan, kehabisan benang ketika proses pengerjaan tinggal sedikit kerab menjadk kendalanya.
“Kendalanya itu bahannya kalau kehabisan kurang sedikit, benangnya habis,” ujarnya.
Untuk proses produksi, Siti menggunakan bahan benang jenis milk cotton yang dinilai lebih halus, empuk, dan ringan. “Benangnya pesan. Biasanya lewat Shopee. Milk cotton kalau di Kediri Jarang,” jelasnya.
Selain berwirausaha, Siti juga aktif tergabung dalam komunitas Disabilitas Kediri Tangguh (DIKTA). Melalui komunitas yang kerap menggelar event tersebut, ia berkesempatan memperkenalkan produknya ke masyarakat luas.
Ke depan, ia berharap dapat mengembangkan usahanya ke skala yang lebih besar, bahkan seperti produksi pabrik, serta membuka toko online yang lebih luas jangkauannya. [nik/ang]

