Kediri (tahukediri.id) – Kota Kediri menjadi tuan rumah bagi Rapat Kerja I Paguyuban Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Jawa Timur pada Rabu (15/4/2026).
Digelar di UIN Syekh Wasil Kediri tepatnya di Aula Gedung Kuliah Terpadu UIN Syekh Wasil Kediri, Forum ini mengusung tema “Sinergi Riset Unggulan PTN Jatim Melaju 2026: Transformasi Digital dan Ekonomi Hijau Berbasis SDGs untuk Kemandirian Daerah”.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menegaskan, bahwa pentingnya riset kolaboratif antarperguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan strategis daerah, khususnya di sektor pertanian dan industri. Sebab, tujuan akhir dari kolaborasi riset unggulan ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga menjadi referensi nasional.
“Kita memiliki program yang ke depan akan melibatkan riset kolaboratif antar Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Timur,” jelasnya.
Khofifah menyebutkan, bahwa tahun ini salah satu program prioritas yang digagas adalah membuka kembali lahan seluas 70.000 hektare guna bisa mencapai swasembada gula.
“Ini menjadi PR besar bagi para guru besar dan rektor. Saya sudah berkali-kali menyampaikan kepada Menteri Pertanian bahwa persoalan kita bukan hanya pada aturan, tetapi pada ekosistem perkebunan,” terangnya.
Lebih lanjut, Khofifah mengungkapkan, bahwa Jawa Timur menyumbang sekitar 52 persen produksi gula nasional. Namun, distribusi masih terkendala, termasuk persaingan dengan gula rafinasi serta kebijakan makro di tingkat pusat.
Menurutnya, riset kolaboratif harus mencakup penguatan dari hulu hingga hilir, mulai dari inovasi bibit unggul, kesiapan pabrik gula, hingga regulasi yang mendukung petani.
“Di sinilah pentingnya applied science. Hilirisasi harus menjadi bagian dari upaya kita agar hasil penelitian benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Rektor PTN se-Jawa Timur, Nurhasan, menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum memperkuat sinergi nyata antarperguruan tinggi.
“Kita menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan dan pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut Nurhasan mengungkapkan, komitmen anggaran riset kolaboratif telah mencapai sekitar Rp15 miliar, di luar anggaran tridarma masing-masing kampus.
Menurutnya, ke depan direncanakan akan membentuk berbagai konsorsium, khususnya di bidang penelitian, guna mendukung program pemerintah serta memperkuat peran Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara. Selain itu juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang energi, pertanian, dan teknologi digital, sekaligus mendukung pencapaian target SDGs.
“Kami optimistis, dengan kolaborasi yang kuat, berbagai tantangan dapat diatasi dan inovasi yang dihasilkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai tuan rumah, Rektor UIN Syekh Wasil Kediri, Wahidul Anam, menyampaikan bahwa transformasi IAIN Kediri menjadi UIN merupakan langkah strategis dalam memperluas pengembangan keilmuan.
“Kami sampaikan bahwa capaian akreditasi institusi kami saat ini sudah berada pada peringkat “Unggul”. Hal ini merupakan prestasi luar biasa seluruh civitas akademika, setelah melalui visitasi BAN-PT pada tahun 2025,” ujarnya.
Pihaknya juga berkomitmen untuk mengembangkan UIN Syekh Wasil Kediri sebagai kampus berbasis green energy dan green campus, termasuk rencana penggunaan kendaraan listrik dan pembangunan SPKLU bekerja sama dengan PLN.
“Kami telah bekerja sama dengan PLN untuk membuka SPKLU di lingkungan kampus, dan ke depan kami juga merencanakan penggunaan kendaraan listrik sebagai operasional kampus,” jelasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, serta Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin Thoha.
Rapat kerja ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan ekosistem riset dan inovasi di Jawa Timur, sekaligus mendorong kemandirian daerah menuju Indonesia Emas 2045. [nik/ang]

