Kediri (tahukediri.id) – Di saat banyak masjid berlomba memperkuat pengeras suara, Masjid Al Alawi Banjarmlati, Kediri justru memilih jalan berbeda dengan menjaga suasana ibadah tetap tenang tanpa iringan musik maupun penggunaan sound system berlebihan.
Masjid tua di Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, ini dikenal mempertahankan tradisi kesederhanaan yang telah berlangsung lintas generasi.
Salah satu santri Pondok Pesantren Al Alawi, Agus Syafudin, menyebut tradisi tersebut menjadi bagian dari nilai spiritual yang terus dijaga di lingkungan masjid.
“Di sini ibadah memang dibuat sesederhana mungkin. Pernah ada pemasangan sound baru, tapi tidak lama kemudian rusak. Sejak itu, penggunaannya sangat dibatasi,” ujar Agus (21/2).
Jemaah Tetap Membludak
Meski mengusung kesunyian, aktivitas ibadah di masjid ini terbilang padat. Pada waktu tertentu seperti Salat Jumat, jemaah bahkan meluber hingga ke serambi masjid karena kapasitas ruang utama terbatas.

Ukuran bangunan inti relatif kecil, sekitar 12 x 20 meter, namun tidak mengurangi antusiasme warga untuk beribadah di sana.
Bangunan utama masjid hingga kini tetap dipertahankan keasliannya. Arsitektur Jawa tampak kuat melalui atap limasan tanpa plafon serta empat saka guru dari kayu jati sebagai penopang utama.
“Struktur utama tidak pernah diubah. Yang diperluas hanya bagian luar untuk menampung jemaah,” lanjut Agus.
Salah Satu Masjid Tertua di Kediri
Masjid Al Alawi Banjarmlati diyakini berdiri sejak abad ke-17 dan berada tidak jauh dari aliran Sungai Brantas. Keberadaannya menjadikannya salah satu masjid tertua di Kota Kediri.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini juga menjadi titik awal berkembangnya pendidikan Islam di Kediri. Dari lingkungan masjid ini lahir generasi ulama yang kemudian berperan besar dalam dunia pesantren.
Salah satu tokoh yang memiliki keterkaitan erat adalah pendiri Pondok Lirboyo, Kiai Abdul Karim, yang merupakan menantu Kiai Sholeh, generasi pengelola Masjid Al Alawi.
Hingga kini, Masjid Al Alawi Banjarmlati tetap berdiri sebagai ruang ibadah sekaligus penanda perjalanan panjang Islam di Kediri, dengan kesunyian sebagai ciri khas yang terus dijaga lintas generasi. [Tan/ang]

