Kediri (tahukediri.id) – Ratusan masyarakat dari berbagai daerah mengikuti prosesi penyucian Batu Manik dan Kenduri atau doa bersama di kawasan Pamuksan Sri Aji Jayabaya, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, pada Senin (15/6/2026). Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu rangkaian tradisi menyambut datangnya Bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Perwakilan Panitia Satu Suro bidang kebudayaan, Hartono, mengatakan bahwa prosesi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Sri Aji Jayabaya sekaligus upaya menjaga kelestarian situs budaya dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur.
“Kegiatan ini dilakukan setahun sekali kegiatan ini dilakukan menjelang bulan Satu Suro dengan tujuan dan maksud membersihksn batu manik di pamuksan Sri aji jayabaya, baik scara fisik maupun spiritual,” jelasnya.
Menurut Hartono, Batu Manik memiliki makna khusus karena dipercaya sebagai simbol kemampuan Prabu Sri Aji Jayabaya dalam meramalkan berbagai peristiwa yang bahkan diyakini mampu menjangkau hingga ribuan tahun ke depan.
Prosesi penyucian diikuti masyarakat, komunitas budaya, serta berbagai paguyuban dari sejumlah daerah. Setelah ritual penyucian selesai, peserta mengikuti kenduri bersama yang digelar di area Pamuksan Sri Aji Jayabaya.
Setelah penyucian Batu Manik, peserta melanjutkan kegiatan Kenduri atau Doa bersama. Malam harinya, masyarakat disugihi pagelaran wayang kulit yang digelar di Pendopo Balai Desa Msnang dengan dalang King Gedug Arya Putra Hari dari Kediri yang membawakan lakon Sir Nanias Angkoromurko.
Sementara itu, puncak ritual peringatan 1 Suro akan berlangsung Selasa (16/6/2026). Prosesi diawali dari halaman Balai Desa Menang menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya, kemudian dilanjutkan ke Sendang Tirta Kamandanu.
Salah satu peserta, Nur (35), warga Malang yang tergabung dalam Paguyuban Guyup Rukun Gotong Royong Welas Asih Gajah Purwo Nusantara, mengaku rutin mengikuti kegiatan tersebut selama empat tahun terakhir.
“Saya selalu hadir setiap Suro di sini. Rasanya senang sekali dan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tempat ini memiliki nilai yang istimewa karena berkaitan dengan Sri Aji Jayabaya,” tuturnya.
Nur datang bersama sekitar 25 anggota paguyubannya menggunakan tiga kendaraan. Setelah mengikuti rangkaian acara di Kediri, ia juga berencana mengikuti kegiatan serupa di Banyuwangi.
Peserta lainnya, Karman, warga Batu, Malang, mengaku telah mengikuti tradisi ini selama kurang lebih 20 tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mencari keberkahan sekaligus meneladani nilai-nilai kehidupan yang diwariskan Sri Aji Jayabaya.
“Semua yang datang ke sini ingin meneladani perilaku baik Sri Aji Jayabaya. Harapannya tentu agar hidup lebih makmur, sejahtera, bersih lahir dan batin, serta dijauhkan dari sifat-sifat buruk seperti riya dan takabur,” ungkapnya.
Rangkaian tradisi Satu Suro ini, diharapkan bukan hanya menjaga kelestarian budaya Jawa yang telah diwariskan secara turun temurun, tetapi juga memperoleh keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat yang mempercayainya. [nik/ang]

