Kediri (tahukediri.id) – Beberapa waktu lalu sebagian titik di wilayah Kediri seperti wilayah Pare dan sekitarnya sempat mengalami turun hujan. Namun BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri memastikan kondisi merupakan fenomena yang normal di musim kemarau.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha, mengatakan secara umum bulan Agustus masih menjadi puncak musim kemarau. Sementara itu, curah hujan diperkirakan masih rendah hingga Oktober.
“Bulan Agustus – Oktober diprediksi curah hujannya masih rendah. Musim hujannya kami juga masih menunggu press release. Bulan Agustus secara umum masih masuk puncak musim kemarau,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Satria menjelaskan, hujan yang sempat terjadi di tengah musim kemarau dipicu adanya fenomena gelombang ekuator Rossby.
“Fenomena hujan di saat musim kemarau kemarin sebenarnya normal karena ada fenomena gelombang ekuator rosby,” katanya.
Fenomena tersebut menyebabkan kecepatan angin menurun dari kondisi rata-rata sehingga meningkatkan potensi hujan lokal di sejumlah wilayah. Meski demikian, kondisi tersebut hanya bersifat sementara.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak musim kemarau. Warga diminta menghemat penggunaan air serta mulai menyiapkan cadangan air bersih sejak dini.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak membakar lahan maupun sampah di area terbuka karena berpotensi memicu kebakaran.
Aktivitas di luar ruangan pada siang hari juga sebaiknya dibatasi. Masyarakat dianjurkan menggunakan pelindung diri dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh guna mencegah dehidrasi maupun heat stroke.
Bagi petani, BMKG menyarankan agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim serta memanfaatkan informasi prakiraan musim dan peringatan dini BMKG sebagai acuan dalam mengambil keputusan.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk selalu mengikuti informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Selalu mengikuti informasi cuaca dan iklim yang resmi dari BMKG agar tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tandasnya. [nik/ang]

