Ringkasan Berita:
- Museum Sri Aji Jayabaya Kediri resmi dibuka kembali setelah melalui proses renovasi dan penataan ulang fasilitas.
- Alur pengunjung dan tata ruang diubah total untuk meningkatkan kenyamanan serta keamanan puluhan koleksi artefak kuno.
- Koleksi mahakarya bernilai sejarah tinggi kini diproteksi dengan pelindung kaca demi menghindari kerusakan akibat sentuhan langsung.
- Pengembangan museum dilakukan bertahap dan ditargetkan melaksanakan peluncuran besar (grand launching) pada akhir tahun 2027.
Kediri (tahukediri.id) – Museum Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri resmi dibuka kembali untuk umum dengan tampilan wajah baru yang jauh lebih representatif dan informatif. Pembenahan infrastruktur dan penataan ulang tata ruang ini dilakukan guna memberikan kenyamanan maksimal bagi wisatawan sekaligus memperketat proteksi terhadap puluhan koleksi benda bersejarah.
Sebelumnya, destinasi wisata sejarah andalan Kediri ini sempat ditutup sementara sejak 3 Mei guna mengoptimalkan renovasi fasilitas, sebelum akhirnya kembali menyambut pengunjung pada 19 Mei 2026
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menjelaskan bahwa langkah penataan ulang ini tidak sekadar berfokus pada estetika visual ruangan. Pembenahan tersebut dirancang secara mendalam untuk memperkuat pengalaman edukasi pengunjung saat mempelajari narasi sejarah dan kebudayaan lokal.
“Iya, dia sudah beda. Ini dari pencahayaan, dari cat di atas, cat plafon, cat dinding, dari lampu-lampu. Terus yang paling penting flow-nya ini sudah diubah. Jadi tata ruangnya ini sudah diubah juga kemarin, terus termasuk penempatan kitchen sink ini, pengamanan artefak yang ada di sini,” ujar Mustika saat ditemui di lokasi, Jumat (22/5/2026).
Proteksi Ketat Artefak Abad ke-11
Pembaruan paling signifikan terlihat pada sistem pengamanan objek. Sebagian koleksi artefak yang memiliki nilai historis sangat tinggi kini dilengkapi dengan pelindung kaca khusus. Fasilitas perlindungan ini berfungsi meminimalisasi risiko degradasi fisik akibat interaksi atau sentuhan langsung dari masyarakat.
Menurut Mustika, setiap peninggalan purbakala memiliki karakteristik kepurbakalaan yang berbeda. Oleh sebab itu, perlakuan konservasi disesuaikan dengan tingkat kerentanan bahan. Pola sentuhan berulang dari tangan pengunjung dalam jangka panjang terbukti berpotensi mengikis detail permukaan komoditas sejarah tersebut.
Beberapa benda cagar budaya yang mendapatkan proteksi ekstra tersebut diketahui berasal dari lintasan zaman yang merentang antara abad ke-11 hingga abad ke-14. Kluster artefak pada era ini membutuhkan manajemen konservasi yang jauh lebih rigid dan berkala.
“Iya, ini memang harus dibatasi betul untuk interaksi langsung karena memang nilai sejarahnya, terus dari barangnya juga itu butuh pengamanan khusus, jangan sampai orang pegang karena ini ada detailnya semacam ini. Sangat rawan sekali karena sangat rentan, apalagi ini salah satu masterpiece kita,” tegas Mustika.
Sebaliknya, untuk beberapa koleksi yang memiliki material lebih kokoh dan aman, pihak museum tetap membiarkannya dipajang secara terbuka. Kebijakan ini diambil agar para pencinta sejarah tetap bisa merasakan kedekatan emosional dan visual yang intim dengan objek purbakala tersebut.
Aspek informatif juga diperkaya melalui pembaruan label nama (name tag) serta penambahan deskripsi data pendukung pada setiap etalase. Langkah ini memudahkan sistem pencarian informasi secara mandiri oleh pengunjung.
Secara kuantitas, jumlah material yang dipamerkan tidak mengalami perubahan, yakni tetap bertahan di angka 54 koleksi. Namun, kurator museum melakukan penyegaran sirkulasi dengan mengganti beberapa jenis benda agar bobot nilai historis yang disajikan kepada publik menjadi lebih kuat.
“Intinya sama, jadi sama. Cuma ada perubahan jenis. Jadi yang ditarik, yang dimasukkan lebih bernilai dari sisi historisnya,” urai Mustika.
Dampak Korosi Kontak Fisik Manusia
Urgensi penutupan akses sentuh ini dipertegas oleh Edukator Museum Sri Aji Jayabaya, M. Ipung Zainul Islam Sumarwoto. Ia memaparkan bahwa senyawa organik pada pori-pori kulit manusia sangat sensitif terhadap keaslian material batu maupun kayu kuno.
“Benda ini rawan sih. Rawan untuk rusak, apalagi kan kalau kita bicara tangan manusia. Dia sebelum datang ke museum ini atau tangannya itu berminyak kan enggak, kita kan enggak tahu. Kemarin itu saja sudah ada yang dikorban. Jadi banyak ibu-ibu datang ke sini, pegang-pegang. Akhirnya dia (artefak) wajahnya satu sisi kan kelihatan gelap karena ada minyak tangan itu,” ungkap Ipung.
Peta Jalan Menuju Grand Launching 2027
Pemerintah Kabupaten Kediri telah menyusun peta jalan jangka panjang untuk pengembangan Museum Sri Aji Jayabaya. Ke depan, ruang pameran akan diperluas dengan membangun koridor transisi yang menghubungkan antara zona arkeologika dan zona etnografika.
Melalui konsep zonasi yang terintegrasi ini, pengunjung diharapkan dapat menangkap benang merah historis secara utuh. Wisatawan bisa memahami bagaimana keterkaitan antara peninggalan material masa lalu dengan implementasi budaya yang masih hidup di tengah masyarakat modern saat ini.
“Jadi di situ konsepnya nanti di ruang tengah nanti transisi antara arkeologika ke etnografika. Jadi biar menyatu, oh ini masih ada artefak, setelah itu ada mungkin stereotip prototype dari jaranan mungkin. Jadi ada transisi. Setelah itu baru ke sana sudah etnografika semua,” kata Mustika.
Proses pembenahan fisik dan konseptual ini akan terus diproduksi secara bertahap lewat pengadaan anggaran berkala. Otoritas kebudayaan daerah menargetkan seluruh rangkaian renovasi besar ini rampung total hingga siap melaksanakan grand launching pada akhir tahun 2027. [nik/ang]

