Kediri (tahukediri.id) – Berdiri sejak tahun 1870-an, Masjid Ringinagung bukan sekedar tempat ibadah tetapi juga menyimpan sejarah panjang seorang ulama KH Imam Nawawi dalam mensyiarkan agama Islam khususnya di Desa Kelling, Kecamatan Kepung.
Salah satu pengurus Pondok Ringinagung, Sahil, menjelaskan, bahwa awal mula berdirinya masjid hingga pesantren yang berkembang hingga saat ini tidak lepas dari perjalanan keilmuan Mbah Kyai Imam Nawawi yang pernah menimba ilmu di Sidoarjo, tepatnya di Siwalan Panji. Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau kemudian membuka lahan baru di daerah Keling yang saat itu masih berupa hutan.
“Setelah mondok disana (Sidoarjo) baru membuka lahan disini. Lahan yang dulunya itu berupa hutan yang ada Pohon Ringin yang besar. Sehingga dinamakan Ringinagung itu. Asalnya itu sekitar tahun 1870-an. Itu tahun yang tercatat atau yang tertulis di pintu masjid,” jelasnya pada reporter tahukediri.id, Jumat (6/3/2026).
Dalam proses membuka lahan, Mbah Kyai Imam Nawawi terlebih dahulu meminta izin kepada masyarakat sekitar yang saat itu berada di wilayah Kandangan. Setelah mendapat izin, barulah beliau mulai membersihkan kawasan tersebut untuk dijadikan tempat ibadah dan pemukiman santri.
Menariknya pada saat akan mendirikan masjid, terdapat pohon ringin besar di lokasi dan sulit untuk dirobohkan meski sudah dipotong hingga putus.
Menurut Sahil saat itulah Mbah Imam Nawawi bermunajat kepada Allah dan mendapatkan ilham untuk membaca salawat Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa sallim yang kini dikenal sebagai Salawat Ringinagung. Setelah membaca salawat tersebut, pohon beringin itu akhirnya dapat roboh.

Beliau itu Mbah Imam Nawawi, itu munajat lah istilahnya, akhirnya mendapat ilham untuk mengamalkan salawat yang berbunyi Allahumma wa salli wa ala muhammad wa sallim itu. Kalau sekarang jadi kenal salawat yang Ringinagung. Barulah pohonnya dirobohkan
“Tempat pohonnya di masjid itu. Karena besar-besar akhirnya kayu-kayunya itu dibuat masjid. Dibuat asrama sebagian,” ujarnya.
Menurut cerita turun-temurun Mbah Kyai Imam Nawawi disebut juga memiliki garis keturunan dari Keraton Solo. Konon nama asli beliau adalah Raden Sepukuh. Namun karena kecerdasan dan kedalaman ilmu agamanya ketika menimba ilmu di pesantren Sidoarjo, beliau kemudian dikenal dengan nama Imam Nawawi, mengambil nama dari seorang ulama besar yang terkenal alim dalam ilmu agama.
Hingga kini, bentuk asli masjid masih dipertahankan meskipun beberapa bagian bangunan telah mengalami perbaikan, seperti penggantian kayu yang lapuk serta pemasangan lantai granit dan keramik.
Selain bangunan masjid yang masih dipertahankan dan digunakan dari warisan KH. Imam Nawawi hingga kini adalah tempat wudhu tradisional berupa kulah atau kolam besar yang berisi air untuk bersuci.
Peninggalan lainnya yakni berupa gentong batu yang berada di sebelah utara masjid. Menurut cerita yang berkembang, gentong tersebut dahulu selalu berisi air dan tidak pernah habis.
“Kalau sekarang diisi pakai keran. Cuman kalau dulu katanya memang enggak bisa habis. Jadi gentong itu terbuat dari batu, itu di utara masjid,” terangnya.
Di kompleks pesantren sendiri terdapat empat area asrama santri, yakni komplek Sundo, Mataram, Pacitan, dan Pekalongan.
Saat ini Pondok Ringinagung masih aktif sebagai pusat pendidikan agama dengan jumlah santri sekitar 900 orang. Dalam sejarahnya, jumlah santri pondok di Kepung tersebut pernah mencapai hingga sekitar 5.000 orang.
Memasuki bulan Ramadan, aktivitas di pesantren justru semakin meningkat. Kegiatan utama yang dilakukan adalah pengajian Ramadan atau yang sering disebut kilatan. Kegiatan ini dilaksanakan di masjid, serambi masjid, asrama santri, hingga di kediaman kiai.
Melalui perjalanan panjang sejak abad ke-19, Pondok dan Masjid Ringinagung tetap menjadi saksi perkembangan pendidikan Islam di wilayah tersebut serta warisan perjuangan Mbah Imam Nawawi dalam membuka kawasan dari hutan menjadi pusat ilmu dan ibadah. [nik/ang]

