Kediri (tahukediri.id) – Hasil kajian teknis mengungkapkan bahwa kerusakan paling parah pada Jembatan Lama Kediri berada di sisi barat. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor usia konstruksi serta gerusan air sungai yang terjadi secara terus-menerus.
Ahli Muda Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kota Kediri, Sunarto, menjelaskan bahwa perbaikan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari perawatan rutin. Setiap kerusakan yang ditemukan akan langsung ditangani oleh Dinas PUPR sesuai arahan pimpinan.
“Perbaikan ini dilakukan pada gelagar jalan yang mengalami pengeroposan. Arahan dari Ibu Kepala Dinas, setiap ada kerusakan tidak lagi dilakukan tambal sulam, tetapi diganti secara total agar lebih aman dan tahan lama,” ujarnya.
Sunarto menyebutkan, kajian teknis yang dilakukan bersama Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa bagian barat jembatan mengalami tingkat kerusakan paling tinggi dibandingkan bagian tengah dan timur. Hal ini disebabkan posisi aliran air yang lebih kuat di sisi barat sehingga berpotensi menggerus fondasi di bawah konstruksi.
“Dari hasil kajian, bagian barat yang paling terdampak. Ke arah tengah hingga timur masih relatif aman,” tambahnya.
Dalam proses perbaikan, Dinas PUPR tetap mempertahankan bentuk asli jembatan karena statusnya sebagai cagar budaya. Trotoar kayu dan gelagar penyangga jalan yang rusak akan diganti menggunakan material kayu serupa dengan kondisi awal.
“Karena ini cagar budaya, kami tidak boleh mengubah fisik bangunannya. Jadi kalau kayu rusak, diganti total dengan kayu juga,” jelas Sunarto.
Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan bagian yang mengalami kerusakan paling parah terlebih dahulu. Sementara itu, untuk jadwal perbaikan total secara menyeluruh masih menunggu penetapan lebih lanjut dan akan diinformasikan kemudian. [Tan/ang]

