Kediri (tahukediri.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Pare 2 Kabupaten Kediri tetap berjalan meski libur sekolah. Hanya saja, menu yang dibagikan dalam bentuk ‘keringan’. Pembagiannya pun dilaksanakan dengan sistem pengaturan waktu, guna menjaga ketertiban dan keselamatan.
Menu MBG masa libur di sekolah ini mendapat beragam tanggapan dari wali murid, mulai dari rasa syukur hingga masukan terkait kualitas dan keseragaman isi paket keringanan yang di terima. Salah satu wali murid berinisial T mengaku telah dua kali mengambil paket MBG sejak awal libur sekolah, yakni tanggal 24 Desember 2025.
“Sejak awal libur sekolah kemarin itu hari Selasa, pengambilan dan kan nunggu, ternyata itu jamnya mundur kan? Jadinya baru hari Rabu dibagikan,” ujarnya pada reporter tahukediri.id, Jumat (26/12).
Menurutnya pembagian MBG kali ini lebih baik dari yang pertama, dimana tidak dibagian sesuai jadwal karena keterlambatan distribusi dari SPPG dan menu yang dibagikan juga mengecewakan. Hari ini dirinya mendapat sejumlah menu, tiga susu kotak kecil ukuran 115 ml, buah naga, pisang, empat butir telur puyuh, empat butir buah anggur, kacang kering, dan tiga buah roti.
“Hari ini tadi kayaknya ya susu, sama kayak kemarin, cuma ini agak mendingan daripada yang kemarin,” katanya.
Ia menilai pelayanan SPPG kali ini kurang maksimal dalam pelayanannya dimana menu yang dibagikan tidak sebaik SPPG lainnya.
“Mohon maaf, eh, saya tidak menyalahkan pihak dari pemerintah, tidak, cuma kayaknya dari pihak SPPG-nya yang kurang gimana gitu, kan, lain sama yang lain. Tapi tetap disyukuri semuanya itu. Eh, enggak kaya kemarin,” akunya.
Sementara itu, Wali Kelas 1 SDN Pare 2 Linda Wahyuni, menjelaskan bahwa selama liburan, distribusi MBG dilakukan dua kali dalam seminggu, yakni setiap Selasa dan Jumat, mulai sejak 23 Desember. Pihak sekolah telah berkoordinasi dengan PIC dan SPPG terkait jadwal pengiriman, yang umumnya tiba di sekolah sekitar pukul 07.15 hingga 07.30 WIB.
“Malamnya kan sudah dapat info dari PIC kami yang di sekolah, PIC dapat kabarnya dari SPPG, besok pengiriman jam sekian. Itu pihak isinya menunggu. Kemudian, malam itu kami menginfokan ke wali murid, mengingatkan kembali, kalau pengambilan MBG dimulai pukul 09.00 WIB. Dari jam 08.00 WIB mungkin yang kelas atas, biar tidak berjubel,” terangnya.
Ia menambahkan, pengambilan dilakukan oleh orang tua siswa, meskipun tidak sedikit anak yang ikut hadir karena antusias. Bagi siswa yang tidak bisa mengambil karena ke luar kota atau berhalangan, paket MBG dialihkan kepada warga sekitar sekolah seperti pedagang dan tukang becak, agar tidak terbuang.
“Kalau wali muridnya sudah menginfokan kami ke luar kota, kami diizinkan, kita membagikan ke tetangga sekolah yang di depan,” Imbuhnya.
Terkait keluhan wali murid mengenai isi paket keringanan, Linda mengakui memang ada beberapa masukan yang disampaikan, termasuk melalui media sosial. Namun, pihak sekolah memilih menyikapinya dengan bijak dan sesuai prosedur.
“Ya ada beberapa yang menanyakan ke pihak sekolah. Kami juga menjawab sesuai dengan kapasitas kami. Kami nanti akan melaporkan kembali ke penanggung jawab, ke PIC, kemudian PIC ke Koordinator SPPG-nya seperti itu,” jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa respons dari pihak SPPG terhadap keluhan dinilai masih agak lambat. Meski demikian, pihak sekolah tetap memberikan ruang evaluasi, mengingat program MBG masih dalam tahun pertama pelaksanaan.
“Agak lambat, Mbak. Kebetulan agak lambat. Betul, ini kemarin saya juga apa ya, harus dicolek. Ya, pihak-pihak terkait karena kami juga kan melayani. Ini kan bukan apa, untuk kebijakan ini kan nasional ya. Kemudian kan turun ke bawah, kami yang terbawah ini kan dapat aduan, protes kan yang paling terdepan. Dengan beberapa, dengan ratusan karakter, dari wali murid di suasana ya, yaitu harus kita bisa mengademkan, mengayomi sama-sama,” ujarnya.
Linda melanjutkan, pembagian MBG kali ini juga akan menjadi evaluasi bersama, apakah sudah ada perbaikan atau tidak. Namun ia berharap pihak SPPG bisa memperbaiki hal tersebut, sehingga manfaat MBG bisa dirasakan secara optimal oleh siswa.
“Ya, ini hari Jumat ini sebagai evaluasi kami. Nanti kalau kelayakannya belum ada perbaikan. Ya, langsung nanti kepala sekolah. Sudah tidak lewat PIC lagi, kepala sekolah nanti yang langsung ke SP selama ini kan kami masih bertahan. Kami mengikuti apa namanya, alur ya, etika,” tandasnya. [nik/ang]

