Kediri (tahukediri.id) – Di Hari Pertanian Nasional, persoalan pupuk, serangan hama, keterbatasan tenaga kerja hingga alih fungsi lahan masih menjadi tantangan bagi petani di Kabupaten Kediri.
Baidowi (56), buruh tani jagung asal Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo, mengatakan kebutuhan pupuk petani saat ini relatif lebih tercukupi dibanding sebelumnya. Namun, ketersediaan pupuk bersubsidi belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tanaman.
Menurutnya, petani jagung masih membutuhkan pupuk tambahan seperti NPK, KCL dan ZA. Sementara pupuk yang disediakan pemerintah antara lain Urea, Phonska dan pupuk organik.
“Petani kan butuhkan ya seperti pupuk tambahan NPK, KCL, ZA itu. Kalau dari pemerintah kan cuma itu, urea sama Ponska, sama organik. ZA-nya keluar cuma untuk petani tebu. Petani jagung belum ada,” ujarnya saat ditemui dilahannya, Kamis (24/9/2026).
Untuk mendapatkan pupuk tambahan tersebut, petani harus membeli di kios atau toko nonsubsidi. Kondisi ini membuat biaya produksi petani bertambah.
Baidowi menyebut pupuk ZA bersubsidi lebih diperuntukkan bagi petani tebu. Sedangkan petani jagung masih harus mengandalkan pupuk nonsubsidi ketika membutuhkan tambahan.
Persoalan ketersediaan pupuk juga dirasakan petani padi di Desa Sambiresik, Palidi, mengatakan dirinya pernah harus menunggu hingga sekitar satu bulan ketika pupuk bersubsidi belum tersedia.
“Kalau dari pemerintah belum ada, ya menunggu. Kadang ada yang beli nonsubsidi, tapi harganya mahal,” ucapnya.
Selain pupuk, Palidi juga menghadapi tantangan tersendiri yakni adanya serangan hama sundep. Hama yang menyerang tanaman padi tersebut mulai dirasakan sejak sekitar Juli.
“Kendalanya itu kalau sini itu musim sundep. Sundep ulat yang ada di dalam padi,” katanya.
Untuk mengatasi serangan hama teraebut, ia masih membeli obat secara mandiri.
Sementara untuk pupuk, Palidi menggunakan pupuk bersubsidi jenis Phonska dan Urea dengan harga di kisaran Rp112 ribu per kemasan 50 kilogram.
Meski demikian, ia menyebut harga pupuk tersebut justru mengalami penurunan dibanding sebelumnya.
Namun, persoalan air yang biasanya menjadi tantangan saat musim kemarau juga relatif terbantu dengan adanya bantuan pompa submersible.

Baidowi mengatakan, keberadaan pompa tersebut memberikan manfaat besar bagi petani. Sebelumnya, petani harus menggunakan mesin diesel masing-masing untuk mengairi lahan.
“Di musim kemarau ini Alhamdulillah ya, pemerintah sudah mendirikan ada submersible. Ini sangat-sangat membantu untuk petani, biasanya petani itu pakai diesel sendiri-sendiri,” katanya.
Sementara petani padi di wilayah tersebut juga menyebut kondisi pengairan di lahannya masih cukup aman.
Palidi mengatakan, lahan di wilayahnya, mendapatkan pasokan air dari sungai yang relatif tidak mengalami kekeringan. Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah lain yang lokasinya lebih jauh dari sumber air.
Di balik aktivitas pertanian yang masih berjalan, persoalan regenerasi tenaga kerja menjadi perhatian tersendiri.
Menurut petani, jumlah buruh tani semakin berkurang. Anak-anak muda dinilai lebih banyak memilih bekerja di sektor konstruksi atau pekerjaan lainnya dibanding menjadi petani maupun buruh tani.
“Pekerjanya makin berkurang. Anak muda sekarang tidak ada yang menjadi petani, buruh tani pun tidak ada. Banyak yang ke bangunan,” ujar Palidi.
Pekerjaan buruh tani juga bersifat musiman sehingga pendapatannya dinilai belum memberikan kepastian. “Kurang ajek. Karena kan musim-musiman,” imbuhnya.
Kondisi tersebut membuat keberlanjutan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pupuk dan air, tetapi juga keberadaan tenaga kerja yang akan mengelola lahan di masa mendatang.
Para petani juga mulai mencemaskan semakin banyaknya pembangunan rumah dan bangunan permanen di sekitar lahan pertanian.
Alih fungsi lahan dinilai berpotensi mengurangi ruang bagi pertanian, terlebih lahan pertanian di wilayah perkotaan dan kawasan padat seperti Kediri relatif terbatas.
“Sebenarnya ya merasa ke situ ada (kekhawatiran). Sebagai orang kecil mau tidak mau mengikuti. Kalau lahan pertanian sering dialihfungsikan sama perumahan, akhirnya petani ke mana?” kata Baidowi.
Menurutnya, persoalan lain juga muncul ketika lahan pertanian berada di sekitar permukiman. Sampah rumah tangga yang masuk ke area persawahan dapat mengganggu tanaman dan membuat petani harus melakukan pembersihan secara rutin.
“Nek khawatir ya khawatir, Mas. Jelas mengganggu. Terutama yang sampingnya itu tanaman itu sulit bisa hidup baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menyampaikan luas tanam sejumlah komoditas pertanian di Kabupaten Kediri masih cukup besar.
Untuk tanaman jagung, luas tanam tahun ini mencapai sekitar 57.000 hektare. Sedangkan tanaman padi sekitar 53.500 hektare, cabai sekitar 7.000 hektare, dan tebu sekitar 23.000 hektare.
Khusus tebu, angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 22.000 hektare. Peningkatan dilakukan melalui program bongkar ratun dan perluasan area lahan.
“Untuk tebu tahun ini insyaallah dari 22.000 tahun kemarin, kami tahun ini karena ada program bongkar ratun ini kami melakukan selain bongkar ratun ada perluasan area lahan di angka 23.000 hektar,” terang Sukadi.
Menghadapi musim kemarau, pemerintah daerah juga melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan air bagi pertanian.
Sukadi mengatakan bantuan alat pertanian, khususnya pompa air, terus dievaluasi dan diverifikasi untuk memastikan dapat digunakan secara optimal oleh petani.
“Walaupun musim kemarau, alat-alat pertanian khususnya pompa air berjalan dengan baik. Bantuan setiap tahun kami evaluasi dan verifikasi ke lapangan terkait kelayakan operasionalnya,” jelas Sukadi.
Untuk wilayah dataran tinggi yang memiliki potensi mengalami kesulitan air, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait pengeboran sumur.
Selain itu, pemerintah memberikan dukungan bahan bakar bersubsidi bagi petani untuk operasional pompa.
Petani dapat memperoleh solar maupun bensin bersubsidi melalui barcode yang diterbitkan Dinas Pertanian.
Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah musim kemarau.
“Itu yang kita lakukan itu untuk memberikan bantuan dalam rangka musim kemarau ini,” kata Sukadi.
Namun bagi petani, keberlanjutan pertanian ke depan juga bergantung pada kemampuan mempertahankan lahan pertanian sekaligus menarik generasi muda agar tetap mau bekerja di sektor pertanian. [nik/ang]

