Kediri (tahukediri.id) – Menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fritri, Dinas Ketahanan Pangan dan Perternakan Kabupaten Kediri (DKPP) Kabupaten Kediri terus menggencarkan monitoring harga dan ketersediaan bahan pokok di sejumlah pasar. Di antaranya adalah Pasar Induk Pare yang menjadi salah satu barometer harga nasional.
Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih, mengatakan pemantauan rutin ini penting dilakukan untuk memastikan stabilitas pasokan dan menekan potensi inflasi, terlebih momen puasa dan lebaran tahun ini berdekatan dengan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang sebelumnya juga telah dilakukan pengawasan penuh.
“Nah, pada saat Nataru kemarin kita sudah full monitoring evaluasi, mulai dari ketersediaan sampai dengan harga. Nah, kemudian di Januari, Februari ini kita sudah harus monitoring lagi kaitannya dengan ketersediaan maupun harga karena bulan depan sudah masuk puasa. Bulan ini pertengahan, nggih. Bulan depan sudah hari raya,” katanya saat ditemui usai monitoring harga cabai di Pasar Induk Pare, Jumat (6/2/2025).
Tutik menambahkan, bahwa monitoring kali ini juga ada dari Deputi Keamanan Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), yakni Andriko Noto Susanto yang turut mengecek langsung stok dan harga komoditas strategis. Langkah tersebut menindaklanjuti arahan Presiden agar tidak terjadi lonjakan inflasi pangan jelang Idul Fitri.
“Ada beberapa pantauan utamanya yang dari Bapak Deputi tadi lakukan mulai dari hari Senin kemarin, khususnya yang pertama kaitannya dengan ketersediaan telur, kemudian daging, kemudian harga dan ketersediaan gula, beras, kemudian yang di Kediri ini adalah cabe dan telur tadi, kemudian bawang merah dan komoditas-komoditas lain yang dihasilkan oleh petani atau masyarakat di
Indonesia khususnya,” terangnya.
Lebih lanjut Tutik menjelaskan, dari hasil pantauan, komoditas yang masih menjadi perhatian adalah cabai karena harganya fluktuatif dan kerap memicu inflasi. Seperti diketahui harga cabai beberapa hari terakhir tembus hingga Rp75.000.
“Hari ini tadi awal buka harga itu Rp72.000 – Rp73.000 karena harga cabai untuk kuantitatif. Ee sore turun ke Rp68 ribu itu harga grosir ya. Grosirnya seperti itu,” katanya.
Menurut Tutik harga turunnya cabai di Kediri saat ini karena terbantu adanya pasokan cabai yang tidak hanya bergantung pada panen lokal Kediri, tetapi juga disuplai dari daerah lain sehingga bisa menjadi penyeimbang harga.
“Prediksi, mudah-mudahan sampai dengan hari raya nanti tidak mengalami lonjakan yang signifikan. Karena tadi teman-teman juga menyampaikan, oh, Kediri itu tidak hanya di panenan Kediri saja, Bu, tapi di luar Kediri juga bisa masuk. Nah, ini bisa menjadi penstabil, penyeimbang harga,” jelas Tutik.
Sementara itu, Koordinator Cabai Merah Besar Pasar Induk Pare, Henry Ariyawan, menuturkan kenaikan harga sebelumnya dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan banyak tanaman cabai terserang jamur di sejumlah sentra produksi. Akibatnya produksi menurun, sementara kebutuhan pasar tetap stabil.
“Ini seandainya enggak ada bantuan atau didatangkan dari Jawa Tengah dan Banyuwangi, kemungkinan harga di sini bisa naik, naik lagi.
Itu intinya terbantulah,” ujarnya.
Ia optimistis harga cabai berpotensi turun menjelang Ramadan karena mulai ada panen susulan yang kondisinya lebih baik.
“Kemungkinan untuk memasuki bulan puasa sampai hari raya kelihatannya bisa turun. Insyaallah bisa turun karena ada panenan susulan ini agak bagus dibanding yang sebelumnya yang kena cuaca ekstrem itu tadi,” tegasnya.
Saat ini harga cabai grosir di Pasar Induk Pare berada di kisaran Rp72–73 ribu/kg pada pagi hari dan turun menjadi sekitar Rp68 ribu/kg pada sore hari.
Sementara sejumlah komoditas lainnya terpantau aman. Harga telur ayam masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dan stok diprediksi cukup hingga lebaran. Ketersediaan gula juga stabil. Sedangkan harga ayam mengalami lonjakan menjadi Rp32.000 daei sebelumnya Rp30.000 tetapi dipastikan stok tetap aman.
Sedangkan untuk beras terus dipantau dengan dukungan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog yang siap digelontorkan jika diperlukan.
“Prediksi sampai dengan hari raya, ketersediaan masih cukup,” pungkas Tutik. [nik/ang]

