Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»News»Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    Nanik Dwi JayantiNanik Dwi Jayanti News 1 September 2026 - 20:04
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Diah Srikandi, UMKM dengan fokus olahan berbahan dasar jantung pisang ini juga merasakan jatuh bangun dalam menjalankan usahanya.

    Sempat terpuruk hingga hampir menyerah setelah pandemi Covid-19, Diah Retno Srikandi, nama pemilik UMKM asal Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan itu kini kembali bangkit dengan mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar jantung pinsang yang menjadi andalannya. Di antaranya Dendeng Jantung Pisang, aneka jenis sambal jantung pisang, dan lainnya.

    “Mulai Covid itu wes mulai saya jatuh. Aduh, kalau saya ingat itu. Mulai bangkit lagi baru kemarin, belum nyampek setahun,” ujarnya.

    Dia menjelaskan, saat pandemi Covid-19 melanda, aktivitas pameran dan pemasaran di luar daerah terhenti. Modal yang sebelumnya telah dikeluarkan untuk mengembangkan usaha pun ikut terdampak.

    Diah mengaku sempat benar-benar kehilangan semangat untuk kembali menjalankan usaha UMKM.

    “Waktu terakhir kena Covid itu banyak sekali modal saya hilang. Saya sudah putus asa,” kenangnya.

    Ia bahkan sempat memilih untuk tidak lagi mengikuti pameran dan hanya fokus mengembangkan bakery dari rumah.

    Namun, kesempatan kedua datang ketika seorang teman mengajaknya mencoba mengisi sebuah kafetaria. Awalnya Diah menolak dan ingin fokus membuat roti saja. Setelah diyakinkan untuk mencoba, ternyata produknya mendapat sambutan cukup ramai.

    Dari situlah semangat Diah perlahan kembali. Ide-ide baru pun mulai bermunculan dan ia kembali mengembangkan produk UMKM-nya.

    Lebih jauh Dia menuturkan, ide mengolah jantung pisang muncul ketika mulai merasa jenuh memproduksi roti dan kue yang diproduksinya sejak tahun 1991. Ia kemudian mencoba mencari inovasi baru yang tidak mudah dibuat oleh banyak orang.

    Sekitar tahun 2013, usaha olahan jantung pisang mulai dirintisnya. Perkembangannya mulai terlihat pada 2015, produknya semakin dikenal hingga Surabaya dan Jakarta.

    “Jadi, ya inovasi ini yang sekiranya orang enggak bisa bikin gitu loh. Saya kepenginnya seperti itu. Ternyata masyarakat itu banyak yang minat gitu loh. Apalagi kalau kita di luar kota, terutama Surabaya, Jakarta itu minatnya banyak sekali,” ujarnya.

    Sebelum pandemi, lanjut Diah, pemasaran bahkan hampir menjangkau seluruh wilayah Indonesia kecuali Papua dan Aceh.

    Meski kembali bangkit, Diah harus menghadapi persoalan lain yang tidak sederhana. Jantung pisang sebagai bahan baku ternyata tidak selalu mudah didapat.

    Kondisi musim panas yang lebih panjang, pasokan jantung pisang semakin sulit diperoleh karena tanaman pisang tidak banyak menghasilkan jantung, ditambah tidak semua jantung pisang bisa digunakan untuk produksi.

    Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Diah biasnya mengandalkan sejumlah pengepul yang sebelumnya pernah menjadi pemasok.

    Namun ketika stok menipis, ia berkeliling pasar untuk membeli jantung pisang dalam jumlah sedikit demi sedikit. Diah bahkan rela pergi ke Pasar Pare jam 02.00 WIB untuk mendapatkan bahan baku tersebut.

    “Sekarang mahal harganya, kadang-kadang barang langka, enggak ada. Kita ke mana-mana sampai sampai beli satu-satu punya orang itu saya beli. Sampai segitu. Karena jantung pisang kan jarang di pasar juga ya. Kalau tertentu saja. Jantung pisang itu juga tertentu yang dipakai,” jelasnya.

    Kondisi tersebut membuat proses produksi tidak bisa dilakukan secara instan. Pengolahan jantung pisang membutuhkan waktu cukup panjang dan harus dilakukan dengan sabar. Bahkan, menurut Diah, untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar diperlukan waktu hingga sekitar 10 hari.

    Kini perlahan, produk Diah kembali menemukan pasar. Saat ini, sejumlah produknya mulai masuk ke berbagai pusat oleh-oleh. Ia menyebut terdapat sekitar 10 outlet pusat oleh-oleh yang menjadi tempat pemasaran produknya.

    Bahkan, baru-baru ini ada pemilik usaha yang tertarik membawa produknya ke Balikpapan. Produk tersebut rencananya akan dikemas kembali menggunakan merek milik pembeli.

    Bagi Diah, model kerja sama semacam ini menjadi salah satu jalan untuk memperluas pasar tanpa harus selalu menggunakan mereknya sendiri.

    Selain dendeng jantung pisang, sambal menjadi salah satu produk yang cukup diminati, khususnya ketika dipasarkan ke luar daerah. Produk bakery seperti pai brownies, nastar dan lainnya juga tetap diproduksi untuk memenuhi permintaan pelanggan.

    Menariknya, sebagian besar proses produksi masih dikerjakan sendiri oleh Diah. Ia menerapkan sistem produksi berdasarkan pesanan toko. Setiap hari produk yang dibuat bisa berbeda, menyesuaikan permintaan pasar.

    Setelah kembali bangkit, Diah tidak ingin berhenti hanya di pasar Kediri. Ia berharap produk-produknya bisa kembali dikenal secara luas dan membuka lebih banyak peluang kerja sama.

    Salah satu rencana yang tengah diharapkan adalah menjadikan produk UMKM miliknya sebagai bagian dari bingkisan jamaah haji pada 2027.

    “Saya pengin, ya, boleh perkenalkan lebih luas. Tujuan saya kan seperti itu,” kata Diah.

    Dari bahan sederhana seperti jantung pisang, Diah membuktikan bahwa inovasi dan kegigihan bisa menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa nama produk lokal Kediri ke pasar yang lebih luas. [nik/ang]

    Berita Kediri Kuliner Kediri UMKM Kediri
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleRatusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    Info Lainnya

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56

    Waspada Penipuan Investasi Bodong, BRI Nganjuk Ingatkan Warga Jangan Tergiur Imbal Hasil Tinggi Tak Wajar

    31 Agustus 2026 - 13:45

    Dari Konter Sembako Jadi Agen BRILink, Rere Cell Andalan Transaksi Keuangan Warga Ngronggot Nganjuk

    30 Agustus 2026 - 20:02
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    Dari Jantung Pisang ke Pasar Nasional, Kisah Diah Bangkitkan Lagi UMKM-nya Usai Pandemi

    1 September 2026 - 20:04

    Ratusan Penambang Tradisional Kediri Raya Tuntut Tunggakan Pembayaran Proyek Tol

    1 September 2026 - 19:11

    Rotasi Tiga Kapolsek, Polres Kediri Dorong Energi Baru untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

    31 Agustus 2026 - 20:22

    Wali Kota Kediri Turun Tangan Dampingi Korban Kekerasan Seksual, Minta Polisi Tegas

    31 Agustus 2026 - 20:18

    7 Atlet, 10 Medali! Ju-Jitsu Kabupaten Kediri Ukir Prestasi di Piala Gubernur Jatim 2026

    31 Agustus 2026 - 13:56
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.