Kediri (tahukediri.id) – Di tengah maraknya karnaval sound system atau lebih dikenal dengan sound horeg, Desa Keling menampilkan Dewata Keling Carnival dengan ragam kostum tematik berikut dengan atraksi yang ditunjukkan.
Panitia Dewata Keling Carnival, Didin mengatakan, Dewata Keling Carnival merupakan agenda tahunan yang kini berjalan keempat kalinya sebagai bagian rangkaian dari Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) HUT RI ke-81 untuk tahun ini.
“Dewata Keling Karnaval ini sudah terselenggara ke empat kalinya sejak 2023. Nah, kita di Dewata Keling Carnival ini memang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Besar Nasional HUT RI. Kalau tahun ini ke-81,” katanya saat ditemui di lokasi karnaval, Sabtu (5/9/2026).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Dewata Keling Carnival mengusung tema ragam nostalgia film Nusantara. Dalam hal ini peserta tidak hanya menampilkan kostum terbaiknya, tetapi juga menunjukkan atraksi.
Salah Salah satunya mereka menampilkan kisah kolosal Putri Kadita yang berubah menjadi Nyi Roro Kidul.
Menurut Didin, selain bagian dari PHBN, Dewata Keling Carnival juga sebagai bentuk apresiasi bagi pelaku pengrajin konstum yang ada di Desa Keling. Sehingga kreativitas kostumnya bisa dikenal masyarakat luas.
“Karena di sini kan ada beberapa warga yang aktif membuat kostum karnaval untuk disewakan atau dijual ke daerah lain. Nah,
karena Dewata Keling ini sebagai wadah puncak mereka mengekspresikan menampilkan kostum-kostumnya yang selanjutnya untuk bisa dikenalkan ke masyarakat luas agar kenal bahwa di keling ini ada produk-produk kostum karnaval,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, melalu kegiatan tersebut juga sebagai upaya pelestarian warisan budaya yang ada di Desa Keling.
Didin menjelaskan, pihaknya bukan melarang penggunaan sound system pada setiap kontingen, tetapi membatasi. Menurutnya yang lebih ditonjolkan dalam karnaval tersebut adalah bagaimana mereka menampilkan kostum beserta atraksinya.
“Bukannya kita melarang, tapi membatasi penggunaan sound system yang sekarang kan mungkin karnaval itu kan satu kontingen, satu rombongan itu semuanya sound ya. Tapi kalau di sini yang membedakan itu kita masih ada tematik. Nah dan batasannya di tematik biar tidak hanya memakai kaos saja, tapi peserta itu dituntut untuk berupaya sekreatif mungkin menampilkan kreativitas mereka seperti itu,” jelasnya.
Didin melanjutkan, penggunaan soun sistem pada kontingen pun harus sesuai dengan Surat Edaran (SE) yang berlaku.
Meski begitu Didin tak menampik sempat adanya pro kontra terhadap batasan pertunjukan sound sistem pada kontingen.
“Aturan itu memang kemarin sempat ada pro dan kontra. Memang kan ada apa itu yang pecinta sound horeg itu agak kurang setuju tapi kita sudah jelaskan kalau misalkan memang batasan-batasan itu sebagai salah satu upaya keamanan bersama di karnaval ini. Jadi semua peserta sudah menerima,” terangnya.
Peserta parade kostum tahun ini pun diikuti sebanyak 21 peserta yang terdiri dari berbagai instansi dan masyarakat Desa Keling. Mereka berjalan di sepanjang jalan Dusun Jegles hingga Desa Gelik.
Tema yang dibawakan Dewata Keling Carnival juga menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh warga. Salah satunya Ani (30) yang menanti kehadiran peserta di pinggir jalan sejak siang hari.
“Dari siang nunggu disini. Karena penasaran ya dengan kostum-kostum yang ditampilkan,” ujarnya.
Menurutnya, meski tak seunik tahun kemarin, tapi ia menikmati setiap penampilan yang disajikan.
“Menurutku sih lebih bagus tahun kemarin ya. Plus minus sih, karena kan setiap tahun beda-beda kostumnya,” tandasnya. [nik/ang]

