Kediri (tahukediri.id) – Harga minyak kemasan di sejumlah pasar Kediri hingga saat ini masih naik. Sementara harga minyak curah mengalami penurunan per hari ini, Jumat (26/6/2026).
Minyak curah 1,5 liter di Pasar Pamenang Pare turun menjadi Rp28.000 dari harga kemarin Rp29.000. Sedangkan harga minyak subsidi Minyakita 2 liter tetap bertahan di harga Rp15.700.
“Orang belinya tergantung harga. Kalau minyak curah murah, belinya minyak curah, kalau Minyakkita murah belinya Minyakkita,” ujar Juminem pedagang sembako di Pasar Pamenang Pare.
Meski begitu, lanjutnya, tak sedikit pelanggannya yang menanyakan keberadaan Minyakita ukuran 1 liter. “Banyak yang nanyak Minyakita 1 literan, karena kalau 2 liter kebanyakan katanya,” imbuhnya.
Sementara harga Minyakita non subsidi bervariasi. Harga 1 liter Minyakita kemasan plastik di Pasar Bendo Pare dibanrol Rp21.000, sebelumnya hanya Rp16.000-Rp17.000. Minyak kemasan seperti Sunco bertahan di harga Rp44.000 per 2 liter.
“Naik sekarang. Biasanya kan 16-17 gitu. Sunco juga tetap mahal,” kata Sholikah (45) pedagang sembako di Pasar Bendo Pare.
Sedangkan harga Minyakita 1 liter kemasan botol di Toko Frozen Pasar Pamenang, dibandrol dengan harga Rp22.000.
“Naiknya bertahap sih, pertama Rp16.500, naik Rp17.500, naik lagi Rp18,000, Rp19.500, sekarang Rp22.000 1 liter. Kalau kita dapatnya dari gudang kita sendiri,” ujar Yoga, karyawan Adlis Frozen Mart.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Tutik Purwaningsih menjelaskan, harga Minyakita yang dijual sesuai HET masih bisa ditemukan di pedagang yang menjadi penyalur resmi Bulog dan ID FOOD.
Di Pasar Geringging, misalnya, terdapat empat pedagang penyalur resmi, sedangkan di Pasar Pamenang Pare ada sekitar 12 hingga 13 pedagang yang menjual Minyakita sesuai ketentuan pemerintah. Namun, pasokan yang diterima para pedagang memang berkurang.
“Iya, teman-teman biasanya dapat, misalkan per hari Senin, misalkan lima box, sekarang tinggal dua. Nanti Rabu dapat lagi seperti itu. Ada pengurangan,” jelasnya.
Menurut Tutik, tingginya harga Minyakita di luar jalur resmi bukan sepenuhnya kesalahan pedagang eceran. Sebab, banyak pedagang mengaku sudah membeli dari distributor dengan harga di atas HET sehingga sulit menjual kembali sesuai ketentuan.
Pihaknya bersama Satgas Pangan terus melakukan pembinaan kepada pedagang. Namun pengawasan terhadap distributor di luar jalur resmi masih menjadi tantangan karena sebagian pasokan berasal dari luar daerah.
“Memang ini tantangan, tapi agak sulit juga, apalagi untuk D1, D2 distributor itu tidak ada rekomendasi resmi dari kami. Yang ada ya cuma dari ID Food sama Bulog saja. Kontrolingnya agak susahnya di sana. Sehingga perlu digencarkan untuk itu,” terangnya.
“Makanya ya perlu bijak saja Ibu-ibu. Kalau misalkan tahu HET-nya ya enggak usah beli. Nah, minimal juga, efek jera untuk teman-teman distributor yang agak nakal ya,” lanjutnya.
Meski demikian, pemerintah memastikan stok minyak goreng di Kabupaten Kediri secara umum masih aman. Selain melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM), masyarakat juga masih memiliki pilihan minyak goreng non-subsidi yang ketersediaannya relatif mencukupi.
Tutik menambahkan, kenaikan harga minyak goreng kemasan non-subsidi lainnya juga tidak terlalu signifikan dan lebih dipengaruhi naiknya biaya kemasan plastik, bukan karena lonjakan harga bahan baku minyak sawit.
“Kalau kami evaluasi kenaikan tidak banyak ya karena mungkin terkait efek packaging-nya aja ya karena plastik naik jadi agak naik. Tapi kalau terkait sama sawitnya sendiri atau bahan bakunya kan ndak, pemerintah tidak ada gejolak ke sana,” pungkasnya. [nik/ang]

