Kediri (tahukediri.id) – Satuan pendidikan di Kabupaten Kediri mendapatkan program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan dua kali lipat lebih banyak dibanding tahun lalu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengatakan, jika tahun lalu hanya sekitar 40 hingga 50 satuan pendidikan yang menerima bantuan, tahun ini jumlahnya telah mencapai lebih dari 100 satuan pendidikan. Bantuan tersebut menyasar jenjang PAUD, SD hingga SMP, baik negeri maupun swasta.
Peningkatan jumlah penerima bantuan tersebut membuat proses pengawasan harus dilakukan lebih maksimal.
“Dinas Pendidikan punya tugas untuk monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di satuan pendidikan masing-masing dan kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap perjanjian kerjasama yang sudah ditandatangani dengan kementerian,” ujarnya ssat melakukan monev pembangunan di beberapa sekolah yang mendapat program revitalisasi dari pemerintah pusat, Senin (21/9/2026).
Salah satu sekolah yang tengah menjalankan program tersebut adalah SDN Tenggerkidul 1, Kecamatan Pagu.
Sekolah ini mendapatkan bantuan revitalisasi untuk tujuh ruang kelas dengan tingkat kerusakan bangunan mencapai 46,58 persen.
Menurut Muhsin, penentuan penerima serta besaran bantuan tidak disamaratakan. Data awal berasal dari Dapodik, kemudian kondisi bangunan kembali dicek langsung melalui survei lapangan. Tingkat kerusakan inilah yang menjadi salah satu dasar penentuan kebutuhan revitalisasi masing-masing sekolah.
“Jadi, ketika sekolah itu melalui Dapodik menjadi calon penerima Revit, maka pemerintah pusat mengirimkan tim ya sampai disurvei tingkat kerusakannya. Sehingga satu satuan pendidikan dengan yang lainnya berbeda, sesuai dengan tingkat kerusakannya,” jelasnya.

Bendahara revitalisasi SDN Tenggerkidul 1, Elita Nur Aini, mengungkapkan kondisi sejumlah ruang kelas sebelum diperbaiki memang sudah membutuhkan penanganan.
Sekolah yang berdiri sejak 1982 tersebut memiliki sejumlah bangunan lama. Beberapa bagian, seperti atap, jendela, pintu, dan dinding, mengalami kerusakan.
“Yang parah ya tembok-tembok itu udah kayak rontok-rontok, terus atapnya juga udah kayak bocor-bocor gitu. Kayak setiap hujan sudah sangat enggak bisa dipakai kalau hujan. Bocor rembes gitu, sampai netes-netes,” ungkap Elita.
Dalam revitalisasi kali ini, perbaikan mencakup bagian atap, jendela, pintu hingga teras. Dari tujuh ruang yang mendapatkan bantuan, enam merupakan ruang kelas dan satu sebelumnya merupakan perpustakaan yang nantinya difungsikan sebagai ruang kelas.
Meski seluruh ruang yang menjadi sasaran revitalisasi harus dikosongkan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Sebanyak 102 siswa SDN Tenggerkidul 1 untuk sementara belajar di lokasi berbeda. Siswa kelas 5 dan 6 menggunakan rumah warga, sedangkan kelas 1 hingga 4 belajar di ruang madrasah. Elita menyebut proses tersebut berjalan lancar berkat dukungan para wali murid.
Sebab, sebelum pemindahan kegiatan belajar, pihak sekolah terlebih dahulu berkoordinasi dengan wali murid. Hasilnya, orang tua siswa menyetujui skema pembelajaran sementara tersebut.
“Alhamdulillah anak-anak juga bisa diajak kerja sama. Sampai satu bulan ini revitalisasi berjalan dengan lancar. Anak-anak tetap pembelajaran seperti biasa,” katanya.
Pelaksanaan revitalisasi di masing-masing sekolah tidak berjalan dalam waktu yang sama. Ada sekolah yang baru mengikuti bimbingan teknis, sementara sekolah yang lebih awal menerima pencairan dana sudah mulai mengerjakan pembangunan.
Untuk SDN Tenggerkidul 1, pekerjaan dimulai sekitar Agustus dan ditargetkan selesai pada Desember. Berdasarkan perjanjian kerja sama, waktu pelaksanaan dihitung sejak dana mulai dicairkan.
Sementara di SDN Gayam, Kecamatan Gurah yang juga mendapat program revitalisasi enam kelas dan satu lab tersebut dimulai sejak akhir Agustus lalu.
Namun berbeda dengan SDN Tenggerkidul 1, siswa SDN Gayam tetap berada di satu lingkup sekolah dengan sistem menggabung dua rombel menjadi satu.
“Dijadikan satu kelas. Jadi misalnya ada yang satu rombel tetap, ada yang misalnya kelas satu itu dua rombel itu dirangkap jadi satu. Kebetulan juga muridnya itu memenuhi kelasnya. Jadi kelasnya masih bisa terpakai untuk 30 siswa,” kata Bendahara Revitalisasi SDN Gayam Ria Diana Wati.
Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri memastikan pelaksanaan revitalisasi tetap mengacu pada prosedur dan petunjuk teknis.
Panitia pembangunan satuan pendidikan juga melibatkan komite, masyarakat sekitar, tenaga teknis, konsultan perencana serta konsultan pengawas profesional.
Muhsin turut mengajak masyarakat dan media untuk ikut mengawasi proses pembangunan.
Menurutnya, pengawasan dari berbagai pihak diperlukan agar pelaksanaan revitalisasi berjalan sesuai ketentuan dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau dibantu pengawasan dari masyarakat, tentu kami sangat senang sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan semua pelaksanaannya hingga akhir nanti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
APBD Ikut Menopang Perbaikan Sekolah
Selain bantuan pemerintah pusat, Pemkab Kediri juga mengalokasikan anggaran melalui APBD untuk memperbaiki sekolah yang belum menjadi sasaran revitalisasi pemerintah pusat.
Muhsin menyebut anggaran APBD untuk kebutuhan rehabilitasi SD dan SMP berada di kisaran Rp20 miliar. Anggaran tersebut juga dapat digunakan untuk melengkapi kebutuhan sekolah yang belum seluruhnya tertangani melalui program revitalisasi pusat.
Di SMPN 1 Ngasem, misalnya. Sekolah tersebut memiliki sekitar 20 ruang kelas. Dari jumlah tersebut, 10 ruang mendapatkan program revitalisasi, sementara tiga ruang lainnya mendapatkan dukungan rehabilitasi melalui APBD.
Dengan bertambahnya jumlah sekolah penerima bantuan, program revitalisasi diharapkan mampu mempercepat pembenahan sarana pendidikan di Kabupaten Kediri.
Perbaikan tersebut bukan hanya menyasar kondisi fisik bangunan, tetapi juga diharapkan menciptakan ruang belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa.
“Kalau kelasnya lebih nyaman, lebih baik, maka semangat belajarnya juga akan meningkat,” pungkas Muhsin. [nik/ang]

