Kediri (tahukediri.id) – Di sebuah rumah sederhana di Desa Purwodadi, RT 03 RW 06, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, seorang lansia bernama Mbah Semi (75) yang menjalani hari-harinya dalam kondisi serba terbatas.
Hidup sebatang kara dan tidak lagi mampu bergerak mandiri, ia bergantung penuh pada perhatian ponakannya, Sunartin (37), seorang ibu rumah tangga yang sekaligus merawat ayahnya yang juga sudah lanjut usia dan suaminya Andik Setiawan (43), yang bekerja sebagai pekerja serabutan.
Menurut Sunartin, Mbah Semi sudah tak bisa jalan selama dua tahun sejak terjatuh di kamar mandi dan mengalami stroke.
“Satu tahun itu ngesot. Bisa turun ke bawah tapi nggak bisa naik ke atas. Dibawa ke rumah sakit nggak mau,” ujar Sunartin pada reporter tahukediri.id, Rabu (19/11).
Sebelum tinggal di rumah yang ia tempati sekarang, Mbah Semi sempat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. “Dua bulan nggak betah disana, pindah. Satu bulan nggak betah di sana, pindah lagi. Baru akhirnya tinggal di rumah ini,” tambahnya.
Kini, tempat tidur yang menjadi satu-satunya area aktivitas Mbah Semi pun kondisinya memburuk. Kayu penyangga dipan sudah patah sehingga tidak lagi layak digunakan.
Sunartin mengungkapkan, beberapa waktu lalu, Dinas Sosial Kabupaten Kediri sempat memberi bantuan berupa sembako dan popok dewasa. Babinsa setempat juga pernah mendatangi rumah Mbah Semi, namun sang nenek menolak ditemui karena kondisinya yang tidak stabil.
“Waktu itu ada dinsos kesini ngasih sembako sama pampers. Terus Babinsa kemarin juga kesini tapi mbah ngamuk nggak mau ditemui,” ujarnya.
Sunartin menyampaikan bahwa kebutuhan terbesar Mbah Semi saat ini adalah popok dewasa. Untuk keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan, dan mengandalkan bantuan PKH, kebutuhan rutin ini menjadi beban yang cukup berat.
“Harapannya ada bantuan pampers, ini mbah satu minggu satu bungkus,” ujarnya.
Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur Arif Witanto mengatakan, dalam kesendiriannya itu ia sudah tak berdaya lagi untuk berbuat mandiri bagi dirinya sendiri dan harus seringkali dibantu oleh orang-orang yang peduli disekitarnya, termasuk untuk makan dan minum sehari-hari.
“Kini dipan tempat ia beraktivitas dan tidur sudah rusak dan patah kayu penyangganya,” kata Arif. “Monggo kalau ada yang berkenan membantu untuk kasur atau dipannya,” pinta Arif. ***
Reporter : Nanik Dwi Jayanti

