Kediri (tahukediri.id) – Kebahagiaan tak dapat disembunyikan dari wajah Jatirah (79), warga Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Mereka baru saja menerima pembekalan kesehatan untuk jemaah haji di Hotel Lotus, pada Senin (27/4/2026).
Lansia yang tinggal di Jalan Merbabu GG Iitu tampak antusias melaksanakan rukun islam kelima setelah penantian panjang selama 14 tahun.
“Alhamdulillah, senang sekali. Senang sekali, ya. Karena sudah menunggu selama 14 tahun,” ujarnya dengan mata berbinar.
Jatirah mendaftar haji sejak tahun 2012. Penantian panjang tersebut dilaluinya dengan penuh kesabaran, termasuk dengan menabung hasil jerih payahnya semasa bekerja sebagai seorang guru.
Jatirah mengaku siap berangkat haji tahun ini. Dalam persiapannya, ia menekankan menjaga kondisi fisik agar lancar dalam melaksanakan ibadah nanti.
“Kesehatan, kesehatan, kesehatan. Alhamdulillah sekarang sehat,” katanya.
Dalam perjalanan ibadahnya nanti, Jatirah tidak sendiri. Ia akan didampingi oleh putrinya, Dina Ristiana (47), yang turut berangkat untuk memastikan sang ibu tetap dalam kondisi baik selama menjalankan rangkaian ibadah.
Dina menjelaskan bahwa berbagai persiapan sang ibu telah dilakukan, terutama dari sisi kesehatan.
“Ya persiapan untuk kesehatan, selalu cek tensi, gula darah, kolesterol, asam urat, biar nantinya di sana baik-baik saja,” ungkapnya.
Selain itu, pola makan juga dijaga ketat. Jatirah diketahui sempat memiliki tekanan darah tinggi, sehingga konsumsi garam dibatasi. Untuk menjaga kondisi tubuh, ia juga mulai mengonsumsi beras merah sebagai alternatif makanan sehat.
“Kalau apa, ‘jagani’ gula darah ya, sebenarnya enggak ada gula darah yang apa, yang berlebihan gitu, cuma untuk menjaga aja.
Itu biasanya pakai beras merah seperti itu dari segi makanan,” terangnya.
Mengingat usia Jatirah yang sudah lanjut, keluarga juga telah menyiapkan fasilitas pendukung mobilitas. “Kami sudah menyiapkan kursi roda untuk membantu aktivitas beliau di sana,” tambah Dina.
Menariknya, Dina sendiri baru mendaftar haji pada tahun 2021. Namun, ia mendapat kesempatan untuk berangkat lebih awal agar dapat mendampingi ibunya. “Saya daftarnya belakangan sih. Karena ya barokah Allah, ini ada panggilan, biar bisa didampingi, jadinya saya ke sana,” tuturnya.
Tak muluk Doa yang diminta Jatirah ketika beribadah di Tanah Suci nanti. Ia hanya memanjatkan satu doa sederhana namun penuh makna. “Mudah-mudahan jadi haji yang mabrur,” ucapnya penuh harap.
Kisah Jatirah menjadi inspirasi tentang kesabaran, ketekunan, dan bakti keluarga dalam meraih panggilan suci ke Tanah Suci, meski harus menunggu lebih dari satu dekade. [nik/ang]

