Kediri (tahukediri.id) – Siapa sangka, sebuah kedai mie ayam sederhana yang memanfaatkan teras rumah kini mampu menarik perhatian pencinta kuliner dari berbagai kota. Adalah Mie Ayam Bakso Mendunia yang berlokasi di Jalan Kartini Gg. II No.22, Kayen Lor, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri yang kini tengah naik daun.
Di balik aroma gurih kuah kaldu yang memikat para pelanggan, berdiri sosok pemuda gigih bernama Nurul Mustofa. Pria asal Klaten, Jawa Tengah ini berhasil membangun kerajaan bisnis kulinernya dari nol lewat perjuangan yang penuh lika-liku.
Banting Setir dari Teknik Elektro demi Dunia FnB
Nurul yang kini menginjak usia 30 tahun mengaku tidak pernah membayangkan garis hidupnya akan berkutat di dunia kuliner. Menyandang status sebagai lulusan sarjana Teknik Elektro di Yogyakarta, ia awalnya memiliki cita-cita normatif untuk bekerja di dunia perkantoran yang linier dengan bidang studinya. Namun, sebuah faktor krusial memaksanya untuk memutar haluan hidup.
“Dulu saya kuliah di Jogja jurusan Teknik Elektro. Tapi basic-nya jauh banget di dunia FnB (Food and Beverage), karena ada satu faktor yang enggak bisa saya kerja di dunia perkantoran atau dunia yang memang saya penginin. Karena faktor itu, akhirnya saya banting setir,” kenangnya.

Langkah awalnya di industri makanan tidak langsung berjalan mulus. Nurul merangkak dari posisi paling bawah sebagai pencuci piring (dishwasher). Berkat ketekunannya, kariernya perlahan menanjak hingga dipercaya menduduki posisi supervisor di sebuah perusahaan FnB.
Dari sanalah ia menyerap banyak ilmu, mulai dari tata kelola dapur, standar pelayanan, hingga manajemen operasional bisnis. “Jatuh bangun, akhirnya merasa saya basic-nya emang suka mie ayam. Cobalah buka mie ayam. Itu awalnya dulu,” imbuhnya.
Eksperimen Rasa dan Puncak Popularitas di Media Sosial
Sebelum resmi meluncurkan produknya ke pasar, Nurul harus melewati fase trial and error yang melelahkan selama dua bulan. Ia bereksperimen demi mengunci formula rasa dasar mie ayam tradisional Indonesia yang pas sebelum dikombinasikan dengan cita rasa internasional.
“Semua pernah gagal. Asin, pahit, kecut, semuanya pernah,” seloroh Nurul mengingat masa-masa sulitnya.
Setelah resep dirasa matang, ia memberanikan diri berjualan menggunakan gerobak kecil dengan modal awal hanya Rp2,5 juta di depan rumah orang tuanya di Klaten. Pada fase awal, kedainya hanya mengandalkan sistem bungkus (take away) dan layanan pesan antar sederhana.
Peta nasibnya berubah drastis berkat kekuatan media sosial. Komunitas pencinta kuliner di platform Twitter (X) ramai memperbincangkan racikan mie ayam miliknya hingga sempat menjadi trending topic. Momentum pasca-pandemi Covid-19 menjadi puncak ledakan bisnisnya, di mana para pelanggan dari Solo, Yogyakarta, hingga Karanganyar rela menempuh perjalanan jauh demi mencicipi mie buatannya.
Meskipun sempat sukses membuka beberapa cabang di Solo dan Yogyakarta, Nurul dihadapkan pada kendala internal terkait kontrol kualitas karyawan dan operasional. Demi menjaga reputasi merek yang sudah dibangun susah payah, ia mengambil keputusan berani untuk menutup sebagian cabang dan fokus pada manajemen kualitas inti.

Babak Baru di Plemahan Kediri dengan Menu Lintas Negara
Kini, Nurul bersama sang istri, Sabrina, memilih membuka lembaran baru dengan mengembangkan cabang di wilayah Plemahan, Kabupaten Kediri sejak akhir Desember 2025. Kedai ini dibangun secara bertahap di atas lahan rumah keluarga sang istri, mulai dari konsep lesehan sederhana hingga seramai sekarang.
Salah satu daya tarik utama dari Mie Ayam Bakso Mendunia adalah diferensiasi menunya yang unik. Kedai ini menyajikan varian rasa yang merepresentasikan kuliner berbagai negara, seperti:
Mie Ayam China: Menyuguhkan cita rasa khas dengan siraman chilli oil yang gurih dan pedas.
Mie Ayam Korea: Menonjolkan sensasi pedas gochujang yang kuat bagi pencinta kuliner pedas.
Varian Topping & Bakso: Menyediakan aneka pilihan pendamping untuk memperkaya tekstur.
Seluruh menu inovatif tersebut dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp18.000 saja per porsi.
Meskipun mendapat sambutan hangat, Nurul tetap mempertahankan sikap membumi dan sangat terbuka terhadap kritik. Baginya, komplain dari pelanggan adalah aset terbaik untuk evaluasi bisnis yang transparan.
Respons konsumen pun beragam. Indah (25), seorang pengunjung asal Wates, memberikan catatan kritis sekaligus pujian pada inovasi rasa kedai ini.
“Inovasi masnya bagus sih, tapi menurutku belum seberapa mewakili rasa (untuk baksonya). Tapi yang paling best emang mie ayamnya. Baksonya biasa,” ulasnya.
Bagi Nurul, konsistensi rasa dan kepuasan pelayanan jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar keviralen sesaat di jagat maya. Berbekal komitmen tersebut, Mie Ayam Bakso Mendunia siap memanjakan lidah para pencinta mi di Bumi Panjalu. [nik/ang]

