Close Menu
tahukediri.idtahukediri.id
    What's Hot

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.id
    • Beranda
    • News
    • Travel
      • Wisata
      • Kuliner
      • Seni & Budaya
    • Multimedia
      • Foto
      • Video
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Arsip
    Facebook X (Twitter) Instagram
    tahukediri.idtahukediri.id
    Home»Kuliner»Kota Kecil, Budaya Ngopi Besar: Kediri Jadi Target Baru Brand Kopi Nasional

    Kota Kecil, Budaya Ngopi Besar: Kediri Jadi Target Baru Brand Kopi Nasional

    Inggar Tania LaurinaInggar Tania Laurina Kuliner 17 Januari 2026 - 17:29
    WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Pinterest Email
    Ilustrasi beberapa orang tengah menikmati kopi di sebuah kedai. [Foto dibuat menggunakan AI]
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kediri (tahukediri.id) – Budaya ngopi di Kota Kediri tumbuh cepat. Dalam beberapa bulan terakhir, geliat usaha perkopian kian padat, mulai dari kedai kopi modern, street coffee, hingga fenomena Starling atau Starbucks Keliling. Dinamika tersebut menjadikan Kediri bukan sekadar pasar pelengkap, melainkan target baru bagi brand kopi dari luar kota.

    Sejumlah kedai kopi nasional mulai membuka cabang di Kediri. Ejji Coffee House asal Surabaya, Cold N Brew dari Solo, hingga Kopi Mandja yang bermula dari Bandung, memilih Kota Tahu sebagai lokasi ekspansi. Kehadiran Starbucks, jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat, semakin menegaskan posisi Kediri sebagai pasar kopi yang dinilai potensial.

    Masuknya brand besar tak serta-merta menyingkirkan pemain kecil. Di ruas-ruas jalan dan kawasan permukiman, Starling justru tumbuh bersamaan. Pedagang kopi keliling dengan sepeda atau motor dan gerobak unik, seperti Bitr., Suguh Coffee dan Kayuhan Coffee, tetap memiliki pelanggan setia. Kopi premium dan kopi keliling hidup berdampingan, membentuk ekosistem yang berlapis.

    Fenomena street coffee juga hadir dengan konsep yang menyesuaikan gaya hidup masyarakat perkotaan. Salah satunya Kopi Saku “Seddiri” yang berjualan pada pagi hari di kawasan Jalan Dhoho. Koh Dhanny, owner sekaligus peracik Kopi Saku Seddiri, mengatakan kopi yang ia tawarkan dirancang untuk konsumen dengan mobilitas tinggi.

    “Keunikannya karena Kopi Saku ini praktis. Pertama dari kemasannya botol, kemudian isinya pas, imbang dengan kopinya. Ini juga berdasarkan testimoni pembeli,” ujar Koh Dhanny. Ia menambahkan, kopinya selalu disajikan dingin, setengah beku atau cair. “Jadi cocok untuk teman-teman yang mobilitasnya cepat, sat set, tidak ingin nongkrong tapi tetap ingin kopi yang kekinian,” katanya.

    Budaya ngopi juga melahirkan ruang-ruang baru bagi masyarakat. Gang Skena di kawasan Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa berkembang menjadi simpul aktivitas anak muda, dengan deretan kafe yang mendominasi sisi kanan dan kirinya. Fenomena serupa terlihat di Pasar Skena, kawasan Pasar Setonobetek, yang kini tak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga ruang temu berbasis kopi dan kuliner.

    Budaya ngopi di Kediri juga tumbuh dari gerakan komunitas. Kopinang (Kopi Pagi Pecinan Ngangeni), misalnya, digelar dalam format kegiatan satu harian yang mempertemukan pelaku kopi dan kuliner lokal. Kegiatan ini menjadi ruang temu sekaligus perayaan budaya ngopi, menandai bahwa geliat perkopian di Kediri tidak hanya digerakkan oleh ekspansi brand besar, tetapi juga oleh inisiatif komunitas.

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kediri, M. Ridwan, menilai pertumbuhan kafe dan kedai kopi membawa dampak positif bagi kota. “Kami menganggap keberadaan kafe itu bagus untuk pemberdayaan, mendukung wisata, dan membuka lapangan kerja,” ujarnya.

    Meski demikian, Ridwan mengingatkan agar para pelaku usaha tetap memperhatikan aspek perizinan dan standar usaha. “Termasuk perizinan dan jika ada penjualan minuman beralkohol juga harus ada izin khusus. Itu standar yang perlu dipenuhi,” katanya.

    Menurut dia, pertumbuhan bisnis kuliner di Kediri sangat dinamis, namun inovasi dan kenyamanan tetap menjadi kunci keberlanjutan usaha.

    Pandangan serupa disampaikan Savitri, owner Kedai Kopi Papa Liem. Ia menyebut tingginya animo masyarakat terhadap budaya ngopi sebagai peluang sekaligus tantangan. “Semakin banyak orang mencari kedai kopi sebagai tempat melakukan banyak aktivitas. Tapi di tengah menjamurnya pesaing, kami percaya konsistensi kualitas menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang,” ujarnya.

    Dari sisi brand luar kota, Kediri dinilai memiliki karakter pasar yang khas. Chello Ang, Co-founder sekaligus Owner Ejji Coffee House, mengatakan keputusan membuka cabang di Kediri berangkat dari respons pelanggan. “Lumayan banyak yang DM, ‘Kediri kapan?’ Banyak customer kami yang asalnya dari Kediri,” kata Chello.

    Ia mengaku terkejut dengan atmosfer kota saat melakukan survei. “Kotanya asik, anak-anak mudanya asik. Dibanding kota besar seperti Malang atau Jakarta, Kediri justru menarik. Kotanya bersih, rapi, dan ke mana-mana tidak macet,” ujarnya. Chello menilai budaya ngopi yang telah menjadi kebiasaan harian masyarakat membuat pasar kopi di Kediri masih akan terus berkembang.

    Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kopi di Kediri telah melampaui sekadar minuman. Ia menjadi bagian dari gaya hidup, ruang sosial, sekaligus penanda perubahan kota. Di kota yang tidak terlalu besar, budaya ngopi justru tumbuh besar dan itulah yang membuat Kediri kini menjadi target baru brand kopi. [tan/ang]

    jatim kediri Kopi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePeringatan Isra Mikraj di PPST Ar-Risalah Lirboyo, Wali Kota Kediri Tekankan Penguatan Iman dan SDM
    Next Article Persik Kediri Rekrut Adrian Luna, Gelandang Serang Uruguay Jelang Putaran Kedua BRI Super League

    Info Lainnya

    Zuppa Soup Keliling di Pare Kediri, Kisah Irul Menjual Kuliner Italia dengan Harga Ramah Pelajar

    13 Juni 2026 - 19:36

    Kisah Inspiratif Nurul Mustofa, Mantan Dishwasher Sukses Rintis Mie Ayam Bakso Mendunia di Kediri

    28 Mei 2026 - 16:24

    Harga Bahan Naik, UMKM Kediri Ini Pilih Stabilkan Harga dan Genjot Produksi

    14 April 2026 - 19:41

    Lonjakan Harga Kacang Tanah, Nasi Pecel di Kediri Terpaksa Naikkan Harga

    11 April 2026 - 18:11

    Berkah Mudik Lebaran, Omzet Getuk Pisang Kak Leman Melonjak 3 – 5 Kali Lipat

    28 Maret 2026 - 16:08

    Arus Balik Lebaran, GTT Pusat Oleh-oleh Khas Kediri Diserbu Pemudik

    26 Maret 2026 - 19:00
    Leave A Reply Cancel Reply

    Info Menarik!

    319 Atlet Ikuti Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Kediri 2026

    18 Juli 2026 - 18:54

    Universitas Kadiri Lepas 770 Wisudawan, Targetkan Rintisan Program S3 dan Perluas Jaringan Global

    18 Juli 2026 - 18:49

    Apel Akbar Pramuka di Kediri Libatkan 10 Ribu Peserta, Dorong Generasi Muda Cinta Pertanian

    18 Juli 2026 - 08:50

    Rumah di Purwoasri Kediri Terbakar Saat Pemilik Terlelap, Kerugian Capai Rp250 Juta

    18 Juli 2026 - 08:06

    Tak Sekadar Lulus, Mas Bup Ingatkan Peserta PBK 2026 Harus Mampu Berkarya di Dunia Kerja

    17 Juli 2026 - 22:38
    © 2026 TahuKediri.ID | serba tahu soal Kediri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.