Kediri (tahukediri.id) – Malam pergantian tahun di Kota Kediri berlangsung berbeda dan penuh kehangatan. Tanpa pesta kembang api dan hiruk-pikuk hitung mundur, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memilih menyambut Tahun Baru dengan cara sederhana: duduk lesehan, makan pecel bersama warga di Kawasan Jalan Stasiun.
Mbak Wali, sapaan akrab Wali Kota Kediri, hadir bersama jajaran Forkopimda, anggota DPRD, dan masyarakat tanpa sekat. Mereka duduk sejajar di atas tikar, menyantap pecel khas Kediri, menciptakan suasana akrab dan egaliter di ruang publik yang kini ditata ulang sebagai salah satu ikon baru kota.
Dalam sambutannya, Mbak Wali menyampaikan bahwa penataan Kawasan Jalan Stasiun bukan sekadar mempercantik wajah kota, tetapi juga bagian dari arah besar pembangunan Kota Kediri melalui program City Tourism. Kawasan ini diharapkan menjadi gerbang utama yang ramah, nyaman, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, di momentum akhir tahun ini kita bisa berkumpul dalam suasana hangat untuk meresmikan Kawasan Jalan Stasiun yang telah ditata ulang. Harapan kami, kawasan ini bisa menjadi ikon baru Kota Kediri, menjadi wadah tumbuhnya ekonomi kreatif, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Mbak Wali.
Ia menambahkan, penataan kawasan strategis tersebut diarahkan agar tidak hanya terlihat rapi dan indah, tetapi juga aman, nyaman, dan mampu menjadi ruang interaksi publik. Menurutnya, Jalan Stasiun memiliki posisi penting sebagai salah satu pintu masuk Kota Kediri yang siap menyambut siapa pun yang datang.
Menjelang pergantian tahun, Pemerintah Kota Kediri memilih mengisi malam istimewa itu dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin langsung oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kediri. Perwakilan enam agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, hadir dan berdoa bersama demi masa depan Kota Kediri yang lebih baik.
Ketua FKUB Kota Kediri Moch. Salim menyampaikan bahwa doa bersama tersebut menjadi simbol persaudaraan dan optimisme menghadapi tahun yang penuh tantangan. “Tahun 2026 tantangannya tentu lebih berat. Karena itu kita harus semakin merapatkan barisan, membangun persaudaraan, dan menjaga keguyuban. Kita optimis karena wali kota kita masih muda dan penuh semangat untuk memajukan Kediri,” ujarnya.
Selain doa bersama, malam pergantian tahun juga diisi dengan penggalangan dana untuk membantu saudara-saudara di Sumatera dan daerah lain yang terdampak bencana, serta santunan bagi yayasan panti asuhan se-Kota Kediri. Langkah ini menjadi wujud empati dan kepedulian sosial Pemkot Kediri di tengah perayaan tahun baru.
Suasana hangat kian terasa dengan penampilan bintang tamu utama Rio Febrian yang menghibur warga tanpa menghilangkan nuansa reflektif malam tersebut. Salah satu warga Kelurahan Banaran, Zakiya, mengaku terkesan dengan wajah baru Jalan Stasiun dan konsep perayaan tahun baru yang digelar Pemkot Kediri.
“Senang sekali, sekarang Jalan Stasiun jadi tidak kalah dengan Malioboro. Semoga Kota Kediri di bawah kepemimpinan Mbak Vinanda semakin maju dan makmur,” ujarnya.
Dengan konsep sederhana namun sarat makna, makan pecel lesehan, doa bersama, dan aksi sosial, Pemerintah Kota Kediri menyambut Tahun Baru 2026 dengan harapan baru. Bukan sekadar perayaan, tetapi refleksi dan ikhtiar bersama agar Kota Kediri ke depan semakin maju, makmur, sejahtera, dan tetap menjadi kota yang indah serta ngangeni. [tan/ang]

